Mabur.co – Munculnya tren 2026 is the new 2016 pada awal tahun ini langsung mengguncang jagat internet, khususnya media sosial. Banyak orang dari berbagai kalangan, termasuk selebriti, yang ramai-ramai membuat postingan terkait apa yang dilakukan pada 2016 lalu, kemudian membandingkannya dengan realita yang terjadi saat ini.
Sekilas postingan-postingan semacam itu terkesan seperti bernostalgia, mengenang masa lalu, atau bahkan tidak kunjung move on dari peristiwa lampau yang sudah lewat satu dekade lalu.
Namun jika ditelusuri lebih jauh, sebenarnya itu adalah sebuah bentuk protes “halus”, terhadap satu dekade terakhir yang penuh dengan kegaduhan, terutama yang berkaitan dengan teknologi dan media sosial.
Pada 2016 lalu, media sosial masih bisa dibilang “ramai lancar”. Salah satu perintis kegaduhan itu datang dari media sosial Instagram, yang saat itu mulai mencuri perhatian, khususnya dengan fitur story-nya yang hanya bisa disaksikan selama 24 jam.
Fitur ini diklaim meniru apa yang telah lebih dulu dibuat media sosial lainnya, Snapchat. Namun akhirnya fitur story Instagram jauh lebih populer dan terus bertahan hingga saat ini.
Berselang satu tahun kemudian (2017), YouTube mulai ikut jadi perbincangan banyak orang di seluruh dunia. Meskipun sudah dirilis sejak pertengahan 2000-an, YouTube baru benar-benar menggebrak sekitar tahun 2017 silam.
Khususnya berkat cerita-cerita terkait adsense, di mana orang bisa menghasilkan ribuan dollar per bulan hanya dari membuat konten video di YouTube, termasuk orang biasa yang bukan dari kalangan artis atau pejabat.
Namun sekarang, semua orang sudah punya YouTube, semua orang bisa bikin konten video, bahkan sanggup bikin tim konten sendiri hanya untuk di-upload ke YouTube, dan semua orang juga sudah mampu menghasilkan uang dari program adsense YouTube.
Menghasilkan uang dari YouTube di tahun 2026 sudah dianggap biasa saja. Bahkan saking menggiurkannya, industri pertelevisian dan koran pun semuanya mulai beralih ke YouTube, untuk bisa memproduksi konten video dan di-upload ke YouTube, agar bisa terus cuan sembari bertahan hidup.
Berselang tiga tahun kemudian, muncullah pandemi Covid-19 (Corona Virus Disease 2019). Sesuatu yang sama sekali tidak terbayangkan oleh siapa pun di seluruh dunia.
Awalnya virus corona hanya ditemukan di Cina. Namun virus ini menyebar dengan begitu cepat hingga ke seluruh dunia di awal tahun 2020, membuat seluruh aktivitas konvensional atau tatap muka terpaksa dihentikan sejenak.
Tak kehilangan akal, orang-orang pun memanfaatkan kecanggihan teknologi khususnya internet untuk tetap bisa produktif serta terhubung dengan banyak orang sekaligus.
Muncullah banyak istilah yang begitu populer pada saat itu, misalnya saja WFH (Work From Home), Webinar, Hybrid, dan sebagainya, di mana sebagian besar terminologi tersebut masih terus diterapkan hingga saat ini, meskipun pandemi Covid sudah dinyatakan mereda.
Tidak hanya soal konektivitas dalam bekerja, pandemi Covid juga seringkali dimanfaatkan oleh pihak (atau oknum) tertentu untuk mengeruk keuntungan, salah satunya dengan menjual masker dan hand sanitizer, yang begitu populer pada saat itu.
Begitu juga dengan keharusan untuk tes PCR/Swab/Rapid Test dan berbagai istilah lainnya, agar dinyatakan layak untuk bepergian dan lain-lain. Untungnya semua “kekonyolan” itu sudah sirna.
Setelah era Covid dengan segala kekonyolannya mengawali dekade kedua di milenium kedua, giliran AI (Artificial Intelligence) mulai mencuri perhatian sekitar tahun 2022. Kekhawatiran pun seketika muncul ketika AI disinyalir akan menggantikan pekerjaan manusia.
Untungnya kekhawatiran tersebut belum benar-benar terjadi, karena manusia jelas memiliki rasa dan emosi yang tidak dimiliki AI. Karena AI hanyalah rangkaian komputasi mesin, yang didesain untuk meniru kemampuan intelektual manusia, namun tidak dapat menggantikan peran manusia seutuhnya.
Satu hal yang pasti, pergeseran pola hidup manusia yang semakin individualistik dan bergantung dengan teknologi, membuat satu dekade terakhir terasa begitu berat dan gaduh, meskipun juga ada sisi positifnya.
Karena apa yang dibicarakan tahun 2016 lalu, sepertinya sudah tidak relevan lagi untuk dibicarakan di tahun 2026. (*)



