Mabur.co – Mata pelajaran (mapel) Matematika sering dianggap sebagai pelajaran primadona di sekolah. Dengan kata lain, jika seseorang tidak mendapatkan nilai bagus di mapel tertentu, tapi mempunyai nilai bagus dalam Matematika, maka orang itu akan tetap dianggap pintar oleh guru, teman, hingga orang tuanya di rumah.
Namun di sisi lain, predikat primadona itu juga kerap melahirkan momok tersendiri. Pasalnya ketika mapel primadona ini tidak dapat dikuasai, atau mendapat nilai yang kurang baik, maka siswa tersebut akan langsung dicap bodoh, tidak punya masa depan, dan seterusnya.
Apalagi dalam mapel ini, jawaban yang benar hanya ada satu, dan tidak ada lagi jawaban benar lainnya. Sehingga satu kesalahan kecil saat berhitung bisa berakibat fatal, yang membuat jawaban akhir menjadi tidak sesuai, dan sebagainya.
Menurut Guru Gembul, atau yang memiliki nama asli Johan Riyadi, konsep Matematika yang sesungguhnya adalah logika abstrak (tidak terlihat) dan pemecahan masalah, bukan tentang hafalan rumus tertentu.
Karena jika Matematika hanya diaplikasikan dengan menghafal rumus, maka semua hal seolah-olah sudah dipersiapkan sedemikian rupa, dan tidak boleh ada kreativitas baru yang muncul dari pelajaran ini. Karena setiap kreativitas (di luar pakem atau rumus yang telah ditentukan) akan dianggap sebagai suatu kesalahan.
“Kalau mengerjakan matematika, saat mengerjakan satu soal, kita hanya diajarkan untuk menggunakan satu rumus tertentu, maka rumus yang lain pasti salah semua. Makanya kita itu nggak pernah jadi penemu. Sekarang penemu di Indonesia itu berapa banyak sih? Kita hanya dipaksa untuk menaati otoritas dari pihak lain, dan segala upaya berinovasi (dalam Matematika) adalah “dosa” di Indonesia.
Kalau kita nemuin rumus baru (untuk memecahkan sebuah soal), ketika rumusnya salah, maka jawabannya pasti juga salah. Dan kesalahan dalam Matematika itu adalah “dosa”, karena jawabannya itu hanya ada satu dan tidak boleh diperdebatkan sama sekali,” tandas Guru Gembul, seperti dilansir dari kanal YouTube pribadinya, beberapa waktu lalu.
Sulit Berinovasi

Lebih lanjut, Guru Gembul juga menyinggung satu hal lainnya, yang kerap menjadi penghambat dalam pelajaran Matematika, yaitu inovasi dalam membangun logika berpikir.
Mengingat Matematika adalah kemampuan memahami logika, maka sudah selayaknya setiap persoalan itu dipecahkan sesuai dengan logika (berpikir) masing-masing anak.
Bukan dengan menerapkan satu jenis logika (rumus) tertentu, yang sudah ditentukan oleh guru maupun kurikulum, dan harus dipraktikkan secara serentak oleh seluruh siswa secara bersamaan.
“Jadi gimana kita mau (jadi bangsa yang) maju, kalau setiap ada inovasi, setiap ada upaya untuk menciptakan logika kemajuan di otak kita, kemajuan logika kita, itu pasti akan dianggap salah. Makanya jahat sekali ketika ada guru-guru yang memperlakukan logika siswa mereka itu dengan cara seperti itu,” tambah Guru Gembul.
Dengan melihat fenomena semacam itu, Guru Gembul menyadari betul bahwa Matematika menjadi suatu momok yang sangat menakutkan bagi para siswa. Pasalnya mereka sudah terlanjur dicekoki dengan satu pemahaman atau logika tertentu, dan tidak diizinkan untuk menggunakan logika lainnya.
Akibatnya, setiap murid tidak lagi memiliki ruang untuk berinovasi, memberikan terobosan baru, atau mengesksplorasi logika berpikirnya sendiri, karena sudah dimatikan oleh sistem yang berlaku, dan sebagainya. (*)
