Ini adalah foto terakhir saya dengan intelektual muda Airlangga Pribadi. Malam itu, di akhir Juli 2026, ditemani pemimpin Penerbit GDN Didik, Airlangga mengantarkan buku terakhirnya yang ditulis bersama Rovky Gerung: Marhaenisme: Dalil untuk Gen Z.
Saya ingat, mungkin 9 tahun lalu, Airlangga menelpon dan ingin bertemu saya. Untuk itu, saya mengundang teman-teman yunior lainnya untuk bergabung makan malam guna menghormati dosen ilmu politik dari Universitas Airlangga, Surabaya ini.
Dari belasan orang yang ikut makan malam itu ada Geisz Chalifa yang langsung mengenali Airlangga secara khas.
“Wah,” kata Geisz, “Ini pendukung Ahok.” Tampaknya melalui media sosial, Airlangga dan Geisz telah saling berinteraksi dalam pertarungan politik Jakarta antara Anies dan Ahok.
Tetapi peserta makan malam —untuk menghormati Airlangga— itu datang dari berbagai kelompok politik. Walau mereka adalah yunior saya, afiliasi politik sangat beragam. Dan, dibandingkan saya, semua lebih lincah dalam politik, terutama karena sebagian besar adalah anggota DPR dari parpol-parpol yang mereka wakili.
Maka, pernyataan Geisz di atas langsung mengundang tawa serentak.
Melalui pembicaraan tentang disertasinya, The Vortex of Power: Intellectuals and Politics in Indonesia’s Post-Authoritarian Era pada malam itu, saya bisa meraba kecenderungan intelektual Airlangga.
Bahwa ia adalah seorang aktivis yang gelisah terhadap struktur politik-ekonomi yang terbentuk oleh gerak sejarah kapitalisme.
Dan itu disemburkan, pada mulanya, melalui disertasinya yang menarik itu.
Pertanyaannya adalah apakah Airlangga seorang yang beraliran kiri?
Secara tidak langsung, ia pernah menyatakan sifat kiri dari kecenderungan intelektualnya.
Datang ke rumah dengan membawa puluhan buku dari Surabaya, Airlangga meminta menginap beberapa malam. Alasannya adalah karena dia tahu saya mengarsipkan jurnal Prisma —yang diterbitkan LP3ES— dengan relatif lengkap. Dan memang, tulisan yang dibuatnya adalah tentang peran Prisma itu sendiri, sesuai dengan permintaan Harry Wibowo, Pemred jurnal ilmiah ini pada waktu itu. Pada saat itulah ia, secara tak langsung, mengungkapkan kecenderungan kirinya.
Tapi, apakah rumusan diri ini “benar”?
Mungkin benar. Tetapi, sekali lagi, saya lebih melihatnya sebagai aktivis yang gelisah atas realitas kapitalisme. Dan untuk itu, Airlangga tak melihatnya keluar. Melainkan ke dalam negeri.
Bagi saya, hal terakhir ini penting. Artinya, Airlangga “membatasi” kegelisahannya pada fakta “nasional”. Bukan fakta “global”.
Inilah, hemat saya, yang mendorongnya melihat Sukarno dalam proyek “ideologis” Marhaenismenya. Selama hampir 4 tahun terakhir, Airlangga menghabiskan energi intelektualnya untuk mengangkat Sukarno.
Bukunya yang pertama, Merahnya Ajaran Sukarno adalah sebuah karya yang serius, mungkin lebih dari yang dilakukan Sukarno sendiri. Mengapa? Karena untuk itu, Airlangga membutuhkan lebih dari 400 halaman dalam menjelaskan konsep Marhaenisme Sukarno itu.
Saya beruntung diminta membuat kata pengantar buku yang memukau itu. Melalui itu, saya melihat Airlangga berhasil memberikan interpretasi Marhaenisme dalam konteks kapitalisme global akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21.
Dan, seperti telah dinyatakan, kegelisahan intelektual itu dilanjutkan ke dalam sebuah buku lanjutan. Sebuah proyek mensosialisasikan Marhaenisme, juga Sukarno, kepada generasi mutakhir Indonesia.
Ini membuktikan bahwa Airlangga bukanlah penganut kiri seperti yang ia definisikan. Ia hanya perlu mencari tokoh nasional sebagai media mengungkapkan kegelisahan intelektual atas fenomena hegemoni kapitalisme di dalam negeri. Dan untuk itu, Airlangga, seperti juga lainnya, tak menemukannya di dalam negeri, selain Sukarno.
Ini yang menjelaskan, walau beberapa kali saya pancing, mengapa Airlangga tak melihat Hatta —kendati sama seperti Sukarno, anti-kapitalis.
Jadi, dalam kecenderungan kirinya, Airlangga berusaha mengungkapkan anti-kapitalis dalam semangat yang berkobar, seperti yang diperlihatkan Sukarno.
Maka, Marxism dan Marx, dalam konteks sikap kirinya yang khas ini, tak terlalu memukau Airlangga secara emosional dan intelektual.
(Catatan ini dibuat tepat pada malam pertama Airlangga tinggal di alam kubur, 11 September 2026. Juga untuk mengungkapkan rasa sesal karena tak berkesempatan mengantarkan tokoh muda yang energik secara intelektual ini ke tempat peristirahatannya yang terakhir).
