Bahasa Nosu Mamasa dalam Upacara Pernikahan (Bagian 5)

3 Min Read
Row of traditional wooden stilt houses with curved roofs set among green terraced rice fields, misty mountains in the background.
Lanskap pedesaan menuju Nosu Mamasa. (Foto: IndoRent)

Menurut pengamatan saya, bahasa dan lingkungan alam paling eksotik di Sulbar adalah di Mamasa. Itu yang saya rasakan selama kurang lebih tiga hari belajar dan mendengar bahasa orang Nosu yang tak bisa saya bedakan dengan bahasa Mamasa pada umumnya.

Baca Juga: https://mabur.co/kolom/eksotika-bahasa-dan-kampung-nosu-mamasa/

Namun bagi mereka tetap beda dialeknya. Sebab itulah catatan saya tentang kebahasaan Rumpun Mandar di sini lebih panjang mengulas tentang Mamasa.

Baca Juga: https://mabur.co/kolom/rumpun-bahasa-mandar-sulbar-di-mamuju-tengah-dan-majene-bagian-3/

Di Nosu saya mencatat banyak hal kebahasaan. Waktunya lebih produktif sebab tak perlu luangkan waktu mandi.

Baca Juga: https://mabur.co/budaya/nasib-bahasa-daerah-rumpun-mandar-sulawesi-barat-bagian-2/

Sebab di sini sulit sekali berkeringat, kopi dan rokok sangat produktif. Tidur malam selain kupluk, jaket tebal, kaos kaki, saya masih pakai selimut dua lapis, dari atap masih menetes embun dan saat salat Subuh wudu dengan sangat ngirit air menyentuh kulit. Jika tidak, saya bisa mengalami kebas kulit dan membeku di depan pancuran air.

Baca Juga: https://mabur.co/kolom/bahasa-daerah-di-medsos-dapat-insentif-komdigi-bagian-1/

Bangun pagi di Nosu, saya tak mau buang waktu begitu saja, teman-teman Jelajah Kondossapata segera mengajak saya keliling menggeber trail menyusur perbukitan dan lembah, menyusur pinus, mengunjungi rumah adat Nosu.

Bertandang ke rumah Tetua Adat dan mendengar langsung cara mereka berbicara serta menggunakan bahasa halus maupun bahasa masyarakat biasa.

Hanya memang, sedikit lebih halus jika diucapkan oleh Tobara’ atau Tomatua (tetua adat). Sepulang dari rumah tetua adat, di antara jalan desa dan persawahan, saya menghirup udara segar dalam-dalam dan menakjubi karunia Tuhan.

Selebihnya saya meluangkan waktu berbincang dengan berbagai elemen dan tokoh masyarakat, juga kami dan rombongan menyempatkan pula waktu menghadiri resepsi pernikahan sahabat kami.

Group photo at a traditional wedding ceremony: bride in a white gown and groom in a suit center, surrounded by family and friends in red attire on a decorated stage with floral garlands and patterned backdrops.
Pelaminan pengantin di Nosu Mamasa. Dok. Pribadi.

Mendapati resepsi pernikahan yang eksotik berbalut budaya Kondosapata Nosu-Mamasa yang di dalamnya terdapat nasehat dan petuah dari para tetua adat serta keluarga besar, juga disampaikan dalam bahasa Nosu-Mamasa yang ritmis, menyentuh, hingga ke lubuk hati.

Meskipun saya tak bisa memahami satu per satu kata yang mereka ucapkan, namun kehalusan budi bahasa para tetua itu sampai hingga ke palung hati saya yang paling dalam.

Selebihnya, kami pulang dari Nosu diantar gerimis dan kabut dingin, kembali menyusuri gunung, sungai dan lembah, pulang ke Sumarorong. Nosu ya Nosu, biarlah segala kenangan dan impian kubawa pergi, namun jejakku kutinggal di sini.

Sekali lagi, saya menceritakan tentang dialektika bahasa Mamasa lebih banyak daripada yang lain, sebab Mamasa adalah satu-satunya kabupaten di Sulbar yang mewarisi paling banyak dialek bahasa rumpun Ulu Salu dan tetap bertahan hingga hari ini.

Sebab Mamasa adalah satu-satunya kabupaten yang paling banyak mewarisi kebudayaan agraris Mandar-Pedalaman dan sama sekali tidak memiliki perbatasan dengan pantai atau laut.

Sementara lima kabupaten lain, semuanya lebih banyak berada di pesisir Mandar-Sulbar atau dalam suasana kebudayaan maritim. Hal ini tentu juga berpengaruh pada dialektika bahasa mereka sehari-hari.

Share This Article
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar