Mabur.co – Sebuah vila di kawasan Kaliurang, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pernah menjadi tempat peristirahatan Presiden Soekarno saat mengikuti Perundingan Komisi Tiga Negara (KTN) pada 13 Januari 1948.
Kini, bangunan bersejarah itu masih digunakan sebagai vila dan disewakan untuk umum. Tarifnya cukup murah, hanya sekitar Rp600 ribu per malam untuk keluarga, sedangkan rombongan dikenai tarif sekitar Rp1,2 juta.
Bangunan tersebut adalah Wisma Merapi Indah di Padukuhan Kaliurang Barat, Kalurahan Hargobinangun, Kapanewon Pakem, Sleman. Bangunan ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah.
Baca juga : Dinas Kebudayaan Sleman Ajak Komunitas Sejarah Telusuri Kawasan Cagar Budaya Kaliurang
Pengelola Wisma Merapi Indah, Dewi Lestari, mengatakan bangunan yang difungsikan sebagai bungalow atau vila ini diperkirakan dibangun oleh orang Belanda pada era 1940-an.
Baca Juga: Notulen Kaliurang, Enam Dalil KTN Jamin Indonesia Tetap Pegang Kedaulatan
Selain memiliki daya tarik sejarah, vila ini iuga memiliki gaya arsitektur yang sangat unik. Seluruh dindingnya dibangun dengan batu andesit.

Bergaya Arsitektur Indis
Dikutip dari situs resmi Dinas Kebudayaan DIY, Kamis (17/9/2026), Wisma Merapi Indah merupakan salah satu bangunan bergaya arsitektur Indis yang ada di wilayah Kaliurang.
Bangunan peninggalan masa kolonial ini dibangun dengan memadukan arsitektur bergaya Eropa dengan elemen lokal Indonesia sebagai bagian penyesuaian terhadap lingkungan tropis.
Baca Juga: Kawasan Kaliurang Yogya Sudah Penuh Hotel dan Vila Sejak Akhir Abad ke-19
Ciri paling menyolok terlihat pada dinding luarnya yang menggunakan susunan batu andesit belah. Batu tersebut direkatkan dengan semen, kemudian dicat hitam, sedangkan bagian semen di antara batu dicat putih.
Kontras warna tersebut membuat susunan batu pada dinding terlihat jelas. Penggunaan batu vulkanik juga menjadi karakter yang kuat pada bangunan yang terletak di kawasan lereng Gunung Merapi ini.
Unsur arsitektur Eropa bangunan ini terlihat dari struktur dinding yang tebal, penggunaan kaca dan bentuk jendela dengan geometri tegas.

Sementara pengaruh arsitektur Jawa tampak pada bentuk atapnya yang dibuat berbentuk tajuk dengan penutup genteng. Sementara bagian puncaknya terdapat hiasan menyerupai kuncup melati dari semen.
Memilki bangunan utama berbentuk persegi dengan ukuran sekitar 14 x 12 meter vila ini didominasi panel-panel kaca dengan kombinasi kayu di sisi bagian selatan dan timur (depan).
Jumlah pintunya ada tiga dengan sistem geser. Sedang lantainya memakai tegel berukuran 20 x 20 sentimeter. Di bagian atas juga terdapat sebuah cerobong asap.
Dewi menyebut awalnya atap bangunan dibuat menggunakan sirap atau lempengan kayu yang disusun rapi. Namun karena mengalami kerusakan akibat dimakan rayap, atap kemudian diganti menggunakan genteng.
“Tapi saya kurang tahu kapan mulai diganti memakai genteng,” ujarnya.
Plafon yang dahulu menggunakan gedhek juga telah diganti seluruhnya menggunakan bahan eternit atau asbes. Meski mengalami sejumlah perubahan, dinding batu andesit tetap menjadi ciri paling menonjol dari bangunan ini.

Sempat Terbakar
Selain bangunan utama, Wisma Merapi Indah juga memiliki bangunan pendukung yang digunakan sebagai garasi sekaligus tempat tinggal para pelayan di bagian belakang.
Sayangnya beberapa waktu lalu salah satu bangunan pendukung ini mengalami kebakaran sehingga hanya tersisa sebagian dindingnya saja.
“Kemarin terjadi konsleting listrik sehingga atapnya ludes terbakar. Namun katanya besok akan direnovasi oleh dinas karena bangunan ini termasuk bagian cagar budaya,” ungkapnya.

Tempat Peristirahatan Soekarno
Salah satu keistimewaan Wisma Merapi Indah dibanding wisma lainnya di kawasan Kaliurang adalah nilai sejarah yang dimilikinya.
Pasalnya wisma ini pernah digunakan oleh Presiden Pertama Indonesia, Soekarno, saat berlangsung Perundingan KTN di Kaliurang pada 13 Januari 1948.
KTN sendiri merupakan pertemuan antara pemerintah Republik Indonesia dan KTN (Amerika Serikat, Australia dan Belgia) yang dibentuk Dewan Keamanan PBB untuk menjadi penengah konflik Indonesia-Belanda.
Pertemuan utama berlangsung di Wisma Kaliurang. Sementara Wisma Merapi Indah digunakan sebagai tempat peristirahatan Soekarno.

Perundingan tersebut menghasilkan dokumen yang dikenal sebagai Notulen Kaliurang, yang antara lain berkaitan dengan penghentian tembak-menembak, peran PBB sebagai penengah konflik serta pemasangan patok wilayah status quo dengan bantuan TNI.
Karena itu, keberadaan Wisma Merapi Indah tidak bisa dilepaskan dari sejarah diplomasi Indonesia di awal masa revolusi kemerdekaan.

Disewakan untuk Umum
Setelah Indonesia merdeka, bangunan ini kemudian dibeli H. Digdo Sudarmo, pemilik NV Baker, perusahaan angkutan darat atau bus di Yogyakarta. Hingga kini, Wisma Merapi Indah I ditempati dan dikelola oleh keturunannya.
Yang menarik, meski telah berganti zaman fungsi bangunan ini sebagai vila tetap dipertahankan. Masyarakat atau wisatawan yang ingin menginap dapat menyewa bangunan tersebut dengan tarif sekitar Rp600 ribu per malam untuk keluarga. Sementara tarif untuk rombongan sekitar Rp1,2 juta.
Dengan tarif tersebut, pengunjung bukan hanya mendapatkan tempat menginap di kawasan sejuk Kaliurang, tetapi juga kesempatan menempati bangunan yang pernah menjadi bagian dari perjalanan sejarah Indonesia.
