Vila Bekas Tempat Istirahat Soekarno di Kaliurang Disewakan Rp600 Ribu per Malam

6 Min Read
Stone-pattern cottage with a red tile roof, orange window awnings, and a lush garden in front.
Wisma Merapi Indah di kawasan Kaliurang yang pernah digunakan Presiden Soekarno untuk berkelana di Lereng Merapi. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co – Sebuah vila di kawasan Kaliurang, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pernah menjadi tempat peristirahatan Presiden Soekarno saat mengikuti Perundingan Komisi Tiga Negara (KTN) pada 13 Januari 1948.

Baca Juga: https://mabur.co/arsitektur/wisma-gadjah-mada-kaliurang-mirip-arsitektur-rumah-gadang-saksi-perundingan-ktn/

Kini, bangunan bersejarah itu masih digunakan sebagai vila dan disewakan untuk umum. Tarifnya cukup murah, hanya sekitar Rp600 ribu per malam untuk keluarga, sedangkan rombongan dikenai tarif sekitar Rp1,2 juta.

Bangunan tersebut adalah Wisma Merapi Indah di Padukuhan Kaliurang Barat, Kalurahan Hargobinangun, Kapanewon Pakem, Sleman. Bangunan ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah. 

Baca juga : Dinas Kebudayaan Sleman Ajak Komunitas Sejarah Telusuri Kawasan Cagar Budaya Kaliurang

Pengelola Wisma Merapi Indah, Dewi Lestari, mengatakan bangunan yang difungsikan sebagai bungalow atau vila ini diperkirakan dibangun oleh orang Belanda pada era 1940-an.

Baca Juga: Notulen Kaliurang, Enam Dalil KTN Jamin Indonesia Tetap Pegang Kedaulatan

Selain memiliki daya tarik sejarah, vila ini iuga memiliki gaya arsitektur yang sangat unik. Seluruh dindingnya dibangun dengan batu andesit.

Small single-story house with a black-and-white stone exterior, red tile roof, and yellow window boxes set in a lush garden.
Wisma Merapi Indah di kawasan Kaliurang yang pernah digunakan Presiden Soekarno. (Foto: JH Kusmargana)

Bergaya Arsitektur Indis 

Dikutip dari situs resmi Dinas Kebudayaan DIY, Kamis (17/9/2026), Wisma Merapi Indah merupakan salah satu bangunan bergaya arsitektur Indis yang ada di wilayah Kaliurang.

Bangunan peninggalan masa kolonial ini dibangun dengan memadukan arsitektur bergaya Eropa dengan elemen lokal Indonesia sebagai bagian penyesuaian terhadap lingkungan tropis.

Baca Juga: Kawasan Kaliurang Yogya Sudah Penuh Hotel dan Vila Sejak Akhir Abad ke-19

Ciri paling menyolok terlihat pada dinding luarnya yang menggunakan susunan batu andesit belah. Batu tersebut direkatkan dengan semen, kemudian dicat hitam, sedangkan bagian semen di antara batu dicat putih.

Kontras warna tersebut membuat susunan batu pada dinding terlihat jelas. Penggunaan batu vulkanik juga menjadi karakter yang kuat pada bangunan yang terletak di kawasan lereng Gunung Merapi ini.

Unsur arsitektur Eropa bangunan ini terlihat dari struktur dinding yang tebal, penggunaan kaca dan bentuk jendela dengan geometri tegas.

Front view of a single-story building with large pane windows and a black-and-white stone-pattern wall, in a sunny garden.
Indahnya Wisma Merapi Indah di kawasan Kaliurang yang pernah digunakan Presiden Soekarno dan rombongan untuk beristirahat selama di Yogyakarta. (Foto: JH Kusmargana)

Sementara pengaruh arsitektur Jawa tampak pada bentuk atapnya yang dibuat berbentuk tajuk dengan penutup genteng. Sementara bagian puncaknya terdapat hiasan menyerupai kuncup melati dari semen.

Memilki bangunan utama berbentuk persegi dengan ukuran sekitar 14 x 12 meter vila ini didominasi panel-panel kaca dengan kombinasi kayu di sisi bagian selatan dan timur (depan). 

Jumlah pintunya ada tiga dengan sistem geser. Sedang lantainya memakai tegel berukuran 20 x 20 sentimeter. Di bagian atas juga terdapat sebuah cerobong asap.

Dewi menyebut awalnya atap bangunan dibuat menggunakan sirap atau lempengan kayu yang disusun rapi. Namun karena mengalami kerusakan akibat dimakan rayap, atap kemudian diganti menggunakan genteng.

“Tapi saya kurang tahu kapan mulai diganti memakai genteng,” ujarnya. 

Plafon yang dahulu menggunakan gedhek juga telah diganti seluruhnya menggunakan bahan eternit atau asbes. Meski mengalami sejumlah perubahan, dinding batu andesit tetap menjadi ciri paling menonjol dari bangunan ini.

Front view of a stone house with a burnt roof and charred beams, blue tarp draped over part of the structure, and a motorcycle parked nearby in the yard.
Bangunan pendamping yang hangus terbakar. (Foto: JH Kusmargana)

Sempat Terbakar 

Selain bangunan utama, Wisma Merapi Indah juga memiliki bangunan pendukung yang digunakan sebagai garasi sekaligus tempat tinggal para pelayan di bagian belakang.

Sayangnya beberapa waktu lalu salah satu bangunan pendukung ini mengalami kebakaran sehingga hanya tersisa sebagian dindingnya saja.

“Kemarin terjadi konsleting listrik sehingga atapnya ludes terbakar. Namun katanya besok akan direnovasi oleh dinas karena bangunan ini termasuk bagian cagar budaya,” ungkapnya. 

Woman wearing a hat and scarf points at a framed black-and-white historical photo on a wooden wall.
Seorang pengunjung menunjukkan foto Soekarno saat berada di kawasan Kaliurang. (Foto: JH Kusmargana)

Tempat Peristirahatan Soekarno

Salah satu keistimewaan Wisma Merapi Indah dibanding wisma lainnya di kawasan Kaliurang adalah nilai sejarah yang dimilikinya. 

Pasalnya wisma ini pernah digunakan oleh Presiden Pertama Indonesia, Soekarno, saat berlangsung Perundingan  KTN di Kaliurang pada 13 Januari 1948.

KTN sendiri merupakan pertemuan antara pemerintah Republik Indonesia dan KTN (Amerika Serikat, Australia dan Belgia) yang dibentuk Dewan Keamanan PBB untuk menjadi penengah konflik Indonesia-Belanda.

Pertemuan utama berlangsung di Wisma Kaliurang. Sementara Wisma Merapi Indah digunakan sebagai tempat peristirahatan Soekarno.

A vintage living room with orange-upholstered chairs around a small table; wood panel walls, tiled floor, and large windows with orange curtains.
Suasana interior Wisma Merapi Indah di kawasan Kaliurang Yogyakarta yang pernah digunakan Presiden Soekarno untuk bersantai. (Foto: JH Kusmargana)

Perundingan tersebut menghasilkan dokumen yang dikenal sebagai Notulen Kaliurang, yang antara lain berkaitan dengan penghentian tembak-menembak, peran PBB sebagai penengah konflik serta pemasangan patok wilayah status quo dengan bantuan TNI.

Karena itu, keberadaan Wisma Merapi Indah tidak bisa dilepaskan dari sejarah diplomasi Indonesia di awal masa revolusi kemerdekaan.

Stone-patterned cottage with orange trim in a tropical garden; a person with a backpack enters the door, sunlight on a sunny day.
Wisma Merapi Indah di kawasan Kaliurang tampak dari samping. (Foto: JH Kusmargana)

Disewakan untuk Umum

Setelah Indonesia merdeka, bangunan ini kemudian dibeli H. Digdo Sudarmo, pemilik NV Baker, perusahaan angkutan darat atau bus di Yogyakarta. Hingga kini, Wisma Merapi Indah I ditempati dan dikelola oleh keturunannya.

Yang menarik, meski telah berganti zaman fungsi bangunan ini sebagai vila tetap dipertahankan. Masyarakat atau wisatawan yang ingin menginap dapat menyewa bangunan tersebut dengan tarif sekitar Rp600 ribu per malam untuk keluarga. Sementara tarif untuk rombongan sekitar Rp1,2 juta.

Dengan tarif tersebut, pengunjung bukan hanya mendapatkan tempat menginap di kawasan sejuk Kaliurang, tetapi juga kesempatan menempati bangunan yang pernah menjadi bagian dari perjalanan sejarah Indonesia.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar