Mabur.co – Sebagai salah satu tradisi kebudayaan di bidang linguistik (bahasa) yang sudah ada sejak beratus-ratus tahun lamanya, aksara Jawa kini harus menghadapi tantangan serius. Di mana semakin sedikit orang yang tertarik untuk mempelajari dan menerapkan aksara Jawa dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi muda maupun Gen Z. Mereka lebih tertarik dengan segala sesuatu yang bersifat dinamis, modern, dan mudah dicerna sesuai dengan usia mereka. Sedangkan aksara Jawa dianggap merupakan tradisi yang sudah kuno, usang, dan tidak relevan lagi untuk dipelajari di zaman sekarang.
Untungnya, berbagai pihak satu-persatu sudah mulai tersadar, dan mulai serius untuk menggarap aksara Jawa menjadi sesuatu yang lebih menyenangkan, seru, dan juga menarik untuk dipelajari oleh generasi muda.
Seperti yang dikemukakan oleh Apri Nugroho, pegiat aksara Jawa di Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia mengaku bahwa pemerintah dan sekolah-sekolah di Bantul terus bekerja keras, untuk bisa melestarikan aksara Jawa dengan berbagai cara, termasuk melalui pendekatan teknologi digital, yang telah menjadi konsumsi anak-anak sekolah setiap harinya. Ia merasa pemerintah juga perlu menghadirkan aksara Jawa di ruang-ruang digital tersebut.
“Untungnya di wilayah DIY sendiri sosialisasi aksara Jawa termasuk yang sangat baik. Banyak kegiatan rutin yang dilakukan setiap tahunnya, baik itu dari Dinas Sosial, Dinas Kebudayaan, Dinas Pendidikan, dan lain-lain yang sering mengadakan sosialisasi maupun perlombaan. Ada juga dari Balai Bahasa DIY, dan juga beberapa Komunitas Aksara Jawa yang jumlahnya sudah semakin banyak,” ujar Apri dalam wawancara tertulis dengan Mabur.co, Jumat (9/1/2026).
Meskipun sosialisasinya dirasa sudah baik dan mendapat respons positif dari berbagai pihak, namun tak bisa dipungkiri bahwa hal itu masih belum cukup, untuk bisa mengembalikan aksara Jawa sebagai bagian dari komunikasi sehari-hari, khususnya dalam hal penulisan.
“Itulah yang masih perlu kami pikirkan lagi secara lebih matang, agar aksara Jawa ini tidak hanya berhenti pada sosialisasi dan lomba saja, tapi juga benar-benar bisa diterapkan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, semisal untuk berkirim pesan atau membuat konten di media sosial,” tambah Apri.
Kerja keras itu perlahan mulai membuahkan hasil, berkat bantuan dan support dari banyak pihak, aksara Jawa mulai disediakan sebagai salah satu font di Operating System (OS) Windows mulai dari versi Windows 8.1 hingga versi terbaru. Selain itu, Windows juga telah menyediakan keyboard khusus aksara Jawa yang bisa digunakan untuk mengetik di Microsoft Word dan lain-lain.
Selain Windows, Google juga telah mendukung pengembangan aksara Jawa di platform mereka, dengan project bernama “Noto” (No Tofu), dan menyediakan font khusus bernama Notosans Javanese, serta Gboard (Google Keyboard) khusus aksara Jawa.
Menurut Apri, selama ini banyak orang yang hanya terjebak pada kata “melestarikan budaya” sebagai tujuan utama dari sosialisasi maupun lomba-lomba aksara Jawa yang diselenggarakan oleh Pemerintah maupun pihak-pihak lainnya. Namun, “melestarikan” yang sesungguhnya adalah bagaimana agar budaya tersebut bisa benar-benar menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari, sehingga orang akan terbiasa untuk menggunakannya dalam keseharian mereka tanpa perlu dipaksa.
Itulah esensi utama dari “melestarikan budaya” yang sesungguhnya. (*)



