Identitas Budaya Sering Terpinggirkan, Pelajar Perlu Mengenal Aksara Jawa

Mabur.co- Di tengah arus globalisasi yang deras, identitas budaya seringkali terpinggirkan. Salah satu elemen penting dari identitas budaya Jawa adalah aksara Jawa, sebuah sistem penulisan yang kaya sejarah dan filosofi.

Aksara Jawa, atau yang sering disebut Hanacaraka, bukanlah sekadar kumpulan simbol mati. Setiap carakan (huruf dasar) memiliki filosofi dan makna tersendiri, mencerminkan pandangan hidup masyarakat Jawa yang luhur. Memahami aksara Jawa berarti membuka jendela menuju pemahaman yang lebih dalam tentang sejarah, sastra, dan nilai-nilai budaya Jawa.

Naskah-naskah kuno yang menyimpan kearifan lokal dan pengetahuan berharga ditulis dalam aksara Jawa. Jika generasi muda tidak mampu membacanya, maka kekayaan intelektual ini akan semakin jauh dari jangkauan mereka.

Kepala Seksi Bahasa dan Sastra, Dinas Kebudayaan Bantul, Tri Jaka Suhartaka, SS, MIP, menjelaskan, untuk progres sosialisasi aksara Jawa, terutama di Kabupaten Bantul  dilaksanakan di dunia pendidikan dari prasekolah, kemudian Sekolah Dasar (SD), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuraan, dan  Madrasah Aliyah  (MA).

Selain itu juga, mensosialisasikan ke masyarakat melalui Dinas Kebudyaan Kabupaten Bantul bekerjasama dengan sarana pendidikan (Pawiyatan), sanggar-sanggar atau kelompok pegiat aksara Jawa dan naskah Jawa, di antaranya Yayasan Sego Jabung (Senang Gaul Aksara Jawa Adiluhung) di Pandak Bantul.

Selain itu juga menggandeng Komunitas Pacibita (Payak Cilik, Bintaran Wetan) di Srimulyo Piyungan, Pawiyatan Taman Aksara Nusantara Triguna (TANTRIGUNA) dalam naungan Yayasan Taman Sesaji Nusantara di Dlingo, juga Komunitas Jangkah Nusantara di Wonokromo Pleret.

“Kita juga mengadakan lomba alih aksara yang rutin diadakan. Antusias warga untuk belajar aksara Jawa dan mengikuti lomba alih aksara cukup bagus, karena mereka ingin melestarikan budaya Jawa,” ujarnya saat dikonfrimasi via Whatsapp, Jumat, 9 Januari 2026.

Tri Jaka Suhartaka, menuturkan, terkait tantangan dan hambatan, masyarakat untuk belajar aksara Jawa, yakni kurangnya minat generasi muda untuk menggunakan aksara Jawa dan memperdalam pengetahuan aksara Jawa. Sementara itu tingkat kesulitannya, ada di dalam pendidikan dasar (PAUD) dan Taman Kanak-kanak (TK).  

“Kurangnya guru yang menguasai aksara Jawa dan bukan berlatar belakang pendidikan bahasa dan sastra Jawa yang menjadikan anak sekolah dasar sulit untuk belajar aksara Jawa,” ucapnya.

Tri Jaka Suhartaka menjelaskan, untuk mengatasi kurangnya minat generasi muda untuk menggunakan aksara Jawa dan memperdalam pengetahuan aksara Jawa, terutama di Kabupaten Bantul, ia berharap, perlu adanya Peraturan Daerah (Perda) dan Peraturan Bupati (Perbup) tentang kewajiban penggunaan aksara Jawa pada dunia pendidikan, pada tata naskah dinas, pada media luar ruang, fasilitas umum, perusahaan, dunia usaha, dan di semua lini sosial kemasyarakatan.

“Saya berharap ada juga peningkatan kapasitas guru TK dan SD dalam materi bahasa-sastra, tembang, dan aksara Jawa. Caranya dengan mengadakan pelatihan khusus dan membentuk trainer dari guru-guru, dengan cara membuat game, film, permainan yang disenangi anak-anak serta generasi muda yang menggunakan bahasa dan aksara Jawa,” ucapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *