Bisakah Menjadi Manusia Pancasila Seutuhnya di Era Disrupsi Informasi?

3 Min Read
Ilustrasi. Siswa sekolah kekinian yang lebih senang bermain ponsel daripada mendengarkan penjelasan guru. (Foto: Fajar Herlambang Studio via Unsplash.com)

Mabur.co – Hari lahir Pancasila memang diperingati setiap tanggal 1 Juni, yang telah ditetapkan sejak 2016 lalu.

Namun sejatinya, penerapan Pancasila tidak hanya terjadi setiap tanggal itu saja, melainkan terus berlangsung setiap harinya, alias selama 365 hari dalam satu tahun penuh.

Sebagai dasar negara Indonesia yang sudah ditetapkan sejak 18 Agustus 1945, Pancasila sejatinya memiliki fondasi yang cukup kuat sebagai pegangan rakyat Indonesia dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara setiap harinya.

Hanya saja dalam kenyataannya, Pancasila seolah hanya difungsikan seperti sebuah textbook kaku yang menjadi hapalan anak-anak sekolah di setiap hari Senin, tanpa benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan masyarakat.

Tidak Tergiur Kecanggihan Teknologi

Terlebih di era disrupsi informasi seperti saat ini, di mana setiap orang bisa memproduksi, mengelola, dan menyebarkan informasi yang mereka dapatkan kepada siapa saja, sehingga membuat arus penyampaian informasi terasa begitu mudah dan cepat diketahui oleh semua orang.

“Manusia Pancasila” yang sesungguhnya haruslah mampu memfilter setiap informasi yang masuk, melakukan verifikasi maupun check and recheck, serta tidak tergiur untuk selalu menyebarkan apapun informasi yang didapatkannya. Karena tidak semua informasi layak untuk disebarluaskan, apalagi jika kebenarannya masih diragukan.

Menurut aktivis literasi dan salah satu Duta Bahasa Yogyakarta, Fitria Eranda, menjadi “manusia Pancasila” hendaknya tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip Pancasila, sekalipun semua kemudahan sudah tersedia dalam genggaman tangan.

Woman in a pink hijab and top sits on a log in a grassy field with trees in the background.
Pegiat Literasi Yogyakarta, Fitria Eranda. Sumber: Instagram

Karena tidak semua kemudahan yang tersedia dalam genggaman ponsel itu sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

“Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, generasi muda perlu belajar cara untuk tetap menjadi manusia (yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila), yaitu mampu berpikir kritis, memilah informasi, menghargai perbedaan, dan tidak kehilangan nurani, di tengah budaya teknologi yang serba viral dan instan,” ucap Fitria Eranda saat dihubungi mabur.co, Senin (1/6/2026).

Bagi Fitria, menjadi “manusia Pancasila” bukan hanya dilakukan satu tahun sekali (setiap tanggal 1 Juni) saja, melainkan proses panjang dan berkelanjutan setiap harinya sepanjang hayat, serta turun-temurun dari generasi ke generasi.

“Sebab Pancasila tidak akan hidup jika hanya karena diperingati satu kali dalam setahun. Ia bisa hidup dari bagaimana sebuah generasi memperlakukan sesamanya dalam kehidupan sehari-hari,” sambung Fitria.

Mengikuti kemajuan teknologi memang sesuatu yang positif, namun jika ternyata teknologi itu tidak sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila Pancasila, mungkin ada baiknya jika kemajuan teknologi tersebut tidak sepenuhnya diikuti.

Karena tidak semua yang canggih itu baik, termasuk bagi kelangsungan hidup orang-orang yang berpegang teguh terhadap Pancasila, sebagai dasar negara yang hakiki dari bangsa Indonesia. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment