Mengapa Perajin Batik di Desa Wukirsari Masih Mempertahankan Metode Membatik Tradisional?

3 Min Read
Women sit on low stools weaving patterned fabric in a workshop, with large printed cloths draped over frames nearby.
Ilustrasi. Perajin batik di Desa Wukirsari tetap mempertahankan metode membatik tradisional di tengah gempuran teknologi modern (Foto: Dok. Azka Qintory)

Mabur.co – Di tengah kemajuan zaman yang semakin canggih seperti saat ini, menghasilkan produk budaya seperti batik mestinya bukan lagi sesuatu yang sulit dilakukan, termasuk oleh generasi muda.

Namun, hal itu sepertinya tidak membuat para perajin batik di Kampung Batik Giriloyo, Desa Wukirsari, Imogiri, Bantul, tergiur untuk melakukan hal serupa.

Ya, perajin batik di Kawasan ini rupanya masih terus mempertahankan metode klasik dalam membatik, seperti menggunakan lilin malam dengan canting, dan dijemur sedemikian rupa selama beberapa jam.

Meski memakan waktu yang cukup lama, metode semacam ini masih dinilai ampuh untuk menghasilkan karya batik yang orisinil, motif yang sangat detail, bernilai seni tinggi, dan seterusnya.

Lalu, apa yang menyebabkan para perajin di Kawasan ini masih terus mempertahankan metode tradisional tersebut? Dan apakah metode ini masih efektif untuk terus diterapkan di masa mendatang?

DIlansir dari laman resmi Batik Giriloyo, Minggu (31/5/2026), berikut adalah penjelasan selengkapnya dari fenomena tersebut.

1. Melestarikan Budaya dan Pakem

Keterampilan metode membatik tradisional sudah diwariskan turun-temurun sejak abad ke-17, yang berkaitan erat dengan tradisi Keraton Yogyakarta. Masyarakat setempat turut mempertahankan metode tradisional ini demi menjaga pakem motif, filosofi, dan unsur seninya agar tidak punah meski terus digempur oleh kecanggihan teknologi.

2. Menjaga Nilai Seni dan Ekonomi

Proses rumit menggunakan canting dan lilin (malam) membuat batik tulis memiliki keunikan yang tidak bisa ditiru oleh mesin secanggih apapun. Hal ini memberikan nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi terhadap produk batik yang dihasilkan.

3. Daya Tarik Desa Wisata

Menjaga keaslian proses pembuatan batik secara manual juga menjadi daya tarik utama bagi wisatawan. Banyak pengunjung yang tertarik menyaksikan proses pembuatan batik, sekaligus bisa mencobanya sendiri untuk merasakan pengalaman serupa.

4. Melestarikan Kearifan Lokal

Sebagian pengrajin juga konsisten menggunakan pewarna alami yang ramah lingkungan. Guna menjaga tradisi lokal yang identik dengan alam sekitar lereng pegunungan.

***

Dengan menjaga tradisi turun temurun tersebut, para perajin setempat masih meyakini bahwa metode tradisional masih memiliki nilai jual yang mampu menarik perhatian wisatawan dari seluruh dunia.

Sehingga mereka tidak perlu melakukan adaptasi teknologi dan semacamnya, hanya untuk mengikuti arus perkembangan zaman dan lain-lain. Karena mengikuti perkembangan zaman tidak selalu berarti kemajuan, atau perubahan ke arah yang lebih baik. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment