Darah dan Daging Budaya Korupsi

Kalau ditanyakan kepada saya mengapa korupsi sulit diberantas, maka jawaban saya karena yang tertangkap korupsi di KPK hampir semuanya tidak menunjukkan penyesalan. Bahkan sebagian besar justru memperlihatkan seperti menjalani gaya hidup yang khas. Ketika mereka yang ditahan KPK muncul ke publik ada juga yang senyum-senyum. Bahkan ketika foto bersama juga tampak biasa dan santai saja.

Sampai di situ saya yakin budaya korupsi memang sudah mendarah daging. Korupsi disebut kejahatan luar biasa namun penanganan dan eksekusinya justru memperlakukan si tertahan seperti menjalani hukuman yang sangat ringan.

Jawaban dan penjelasan saya tentang budaya korupsi memang juga biasa saja. Karena budaya korupsi di Indonesia sendiri sudah melebihi dunia fiksi. Dalam dunia fiksi bisa saja korupsi justru mempunyai batasan. Misalnya disebutkan jumlah korupsinya dan memang hanya segitu. Nah, dalam kenyataan di Indonesia, budaya korupsi yang menggurita di semua bidang sudah tidak terimajinasikan lagi.

Kalau ada yang tertangkap tangan karena Operasi Tangkap Tangan (OTT) bisa saja jumlah korupsi yang sesungguhnya sekian kali lipatnya hasil OTT. Jadi, fakultas sastra di hampir semua perguruan tinggi itu peminatnya tidak terlalu banyak, namun budaya korupsi di Indonesia melebihi imajinasi orang-orang yang bergelut dengan dunia sastra. Hahaha.

Itulah hebatnya saudara-saudara kita sesama homo sapiens di Indonesia yang mahir bersilat anggaran. Saat akhir tahun 2024 lalu korupsi di Dinas Kebudayaan DKI Jakarta meledak dengan terkuaknya angka fiktif Rp150 miliar, para seniman juga biasa saja. Padahal modus oknum di Dinas Kebudayaan DKI Jakarta itu membuat program seni-budaya fiktif. Jadi seperti benar-benar sudah imun semua, apalagi sistem hukum di Indonesia penanganannya juga seperti sandiwara saja.

Selama penanganan korupsi memang tidak benar-benar membuat jera, maka korupsi di Indonesia selalu sulit diberantas. Kecuali memang mau menerapkan sistem AI dalam pemerintahan seperti yang sudah dirintis beberapa negara untuk menekan peran homo sapiens dalam penanganan proyek.

Sampai di sini, saya teringat dengan gurauan seorang kawan yang menyatakan, jika dilihat pendidikan dan reputasi para koruptor, orang luar biasa semua. Pejabat, berpendidikan tinggi, dan beragama. Tapi, itu semua tidak mengubah gaya hidup korupsi. Jangan-jangan karena mereka menganggap agama pun sudah menjadi gaya hidup sehingga tidak perlu menjadi benteng kejujuran?

O ya. Korupsi yang terungkap di media massa itu kita tahu sebagian besar hanya di Jawa. Lalu bagaimana dengan di luar Jawa yang justru Pendapatan Asli Daerah jauh lebih besar?

Aduh, betapa kayanya Indonesia dan kini semua menghadapi korupsi seperti menghirup udara segar saja. Sudah terlalu biasa sehingga tidak muncul sebagai ganjalan. Semua homo sapiens juga sudah tahu bahwa dalam sistem penganggaran pasti terjadi mark up. Piye jal? ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *