Tren Zero Post, Aktif Main Medsos tapi Ogah Posting

2 Min Read
Woman with a ponytail holding a smartphone; the screen shows a messaging notification or chat thread with text visible on the display.
Ilustrasi. Di kalangan Gen Z zero post jadi tren tersendiri. (Foto: REUTERS)

Mabur.co- Media sosial dulu identik sebagai tempat berbagi aktivitas sehari-hari.

Foto liburan, makanan, pencapaian pribadi, hingga momen bersama teman ramai memenuhi beranda berbagai platform digital. Namun, kebiasaan tersebut perlahan mulai berubah.

Generasi  Z (Gen Z) yang dikenal aktif di internet kini justru semakin jarang mengunggah kehidupan pribadi mereka ke media sosial.

Meski tetap aktif membuka aplikasi seperti Instagram, TikTok, dan X, banyak generasi muda kini lebih memilih menikmati konten dibanding rutin membuat unggahan. Fenomena ini dikenal dengan istilah zero post.

Kebutuhan Privasi

Psikolog Klinis Puspaga DIY, Meli Septriani, M.Psi., Psikolog,mengatakan, faktor yang memengaruhi remaja memilih untuk zero posting yakni perubahan kebutuhan akan privasi, banyak remaja yang mulai sadar akan jejak digital ke depan.

“Remaja mulai memilih untuk menjaga informasi pribadi dan membatasi diri dari publik sebagai bentuk perlindungan diri,” katanya, Senin (6/7/2026).

Smiling woman wearing a white lab coat and black hijab, portrait against a white background.
Psikolog Klinis Puspaga DIY, Meli Septriani, M.Psi., Psikolog. (Foto: Dok.Pribadi)

Meli mengatakan, menjaga kesehatan diri dan mengurangi tekanan psikologis, terkadang mengunggah konten ke media sosial tidak sedikit yang mendapatkan komentar negatif, atau penilaian negatif, dari postingan yang diunggah.

Dengan memilih zero posting sebagai upaya untuk mengurangi tekanan psikologi, tekanan sosial, yang dapat terjadi.

“Memilih kenyamanan dalam bersosialisasi, tidak sedikit remaja saat ini memilih untuk bersosialisasi dan berkomunikasi melalui pesan singkat pribadi, grup, maupun secara langsung,” ucapnya.

Meli mengatakan, adanya pengalaman negatif yang terjadi, adanya komentar atau penilaian negatif dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk cyber bullying, kondisi ini pula yang menjadi salah satu faktor remaja memilih zero posting,” katanya.

Meli mengatakan, zero posting, sebagai salah satu bentuk dari strategi adaptasi remaja terhadap perkembangan zaman, perkembangan media sosial, perubahan budaya digital, dan bukan sebagai tanda gangguan mental.

Perilaku dari zero posting masih dianggap wajar selama individu tetap mampu menjalankan aktivitas sehari-hari, mempertahankan hubungan sosial yang sehat, dan tidak mengalami gangguan fungsi psikologis yang signifikan.

“Namun, jika disertai dengan penarikan diri dari seluruh interaksi sosial, ketakutan yang berlebihan terhadap penilaian orang lain, kecemasan, maka kondisi tersebut dapat menjadi indikasi perlunya evaluasi psikologis lebih lanjut,” katanya.

TAGGED:
Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar