Mabur.co- Kiprah Ki Hajar Dewantara dalam memajukan pendidikan nasional tak terbantahkan. Tamansiswa yang ia dirikan jadi kesempatan bumi putra jelata untuk memeroleh pendidikan, bahkan yang setara dengan para priyayi dan orang Belanda. Inilah sekelumit kisah tentang Ki Hajar Dewantara sebelum mendirikan Tamansiswa.
Terkait dengan edukasi publik pula, Social Movement Institute dan Komunitas Bambu, menggelar diskusi dengan tema ‘Tamansiswa dan Gerakan Kebangkitan Pendidikan’ di Pendopo Agung Tamansiswa, Jalan Tamansiswa No. 25, Kota Yogyakarta, Minggu (17/5/2026). Menghadirkan JJ Rizal (sejarawan dari Penerbit Kobam), Butet Kartaredjasa (budayawan, alumnus Tamansiswa), dan Eko Prasetyo (penulis buku dari Social Movement Institute).

Chinese Community
Budayawan dan alumnus Tamansiswa, Butet Kartaredjasa, menyatakan, dirinya bisa menjadi manusia kebudayaan karena Tamansiswa.
“Saya pernah bersekolah di Tamansiswa yakni Taman Dewasa (SMP). Sebelumnya, saya SD dan SMP di sekolah Katolik keren, yakni Pangudi Luhur. Pelajaran-pelajaran di Pangudi Luhur itu bisa dibilang tahapannya satu tahun lebih ke depan jika dibandingkan dengan Taman Siswa.
Saat sekolah di Pangudi Luhur, teman-teman saya kebanyakan Chinese Community. Gaya hidup itu menjadi ciri wanci, menjadi identitas. Meskipun hidup saya dulu sederhana. Waktu saya muda, trennya masuk disko, tetapi saya enggak kenal disko.
Teman-teman saya Chinese Community yang juga menyebabkan seseorang seperti saya punya identitas. Karena berada dalam life style mereka, saya menjadi minoritas di sana, dan akibat sebagai minoritas saya frustrasi. Lalu saya disuruh pindah sama bapak saya, Bagong Kussudiardja. Diminta sekolah ke Tamansiswa karena bapak saya adalah murid Ki Hajar Dewantara,” ujar Butet.

(Foto: Setiaky A Kusuma)
Butet menjelaskan, saat sekolah di Pangudi Luhur pula, ia merasa justru berlomba untuk goblok.
“Saya di Pangudi Luhur memelopori cepat-cepatan menyelesaikan ujian, meskipun belum selesai. Karena saya ingin tidak naik. Itu adalah cara mencari identitas diri saya dulu. Sangat konyol. Sampai akhirnya saya tidak naik kelas 2 SMP di Pangudi Luhur. Karena tidak naik kelas itulah, saya pindah ke Taman Dewasa. Di sekolah Taman Dewasa, saya menjadi murid yang paling pintar,” ungkap Butet.
Menurut Butet pula, ia betul-betul banyak dikagumi oleh siswa-siswi Taman Siswa karena menjadi orang pintar Matematika.
Butet Pintar Menggambar
“Saya punya kepercayaan diri di kelas untuk pelajaran-pelajaran matematika, tetapi yang terpenting bagi saya bukan ilmu matematika, justru ilmu kebudayaannya. Di Taman Siswa inilah bakat menggambar saya terdorong sangat baik. Karena dulu kepala sekolah saya di Taman Dewasa itu namanya Herman Pratikto. Ilustrator komik Bende Mataram. Herman Pratikto adalah kepala sekolah yang pintar menggambar. Bayangkan kepala sekolah seorang guru gambar,” kenangnya.

Butet menjelaskan juga, dirinya merasa mempunyai bakat bagus sejak sekolah di Pangudi Luhur. Tetapi di sana murid yang pintar menggambar diabaikan, karena yang dipuji adalah yang pintar matematika.
“Pintar gambar enggak ada yang menghargai. Di sekolah Tamansiswa ini saya dihargai, diperhatikan oleh kepala sekolah, oleh guru-guru. Kalau hari Minggu saya dikumpulkan di rumahnya Herman Pratikto untuk membuat majalah dinding. Saya harus menulis artikel pakai tulisan tangan untuk nanti dimuat di majalah dinding oleh Ki Ros. Saya diajari membaca novel untuk kemudian membuat ringkasan novel. Di sekolah Pangudi Luhur tidak ada pelajaran itu. Setiap minggu harus satu novel. Waktu itu ayah saya sering menerima berkardus-kardus novel terbitan Pustaka Jaya dari Ajip Rosidi,” ujarnya.
Novel Pertama yang Dibaca Butet
Butet menuturkan pula, masih ingat novel pertama yang dibaca saat kelas 3 SMP, yakni Gairah Emas Hitam. Menceritakan tentang bisnis minyak di Riau.
“Usai membaca novel itu, saya diminta membuat sinopsis, ringkasannya, oleh guru bahasa Indonesia, dari situ saya mempunyai tradisi membaca sejak SMP. Sebuah proses pembelajaran yang di kemudian hari membentuk saya, karena saya kemudian mencintai sastra. Jadi gemar menulis puisi, gemar menggambar, ikut kompetisi-kompetisi melukis, memenangkan kejuaraan, semacam mendapatkan pengakuan. Itulah yang menggembleng saya menjadi manusia kebudayaan,” tukas Butet.
Butet memaparkan, kalau di Pangudi Luhur yang dipuji adalah orang-orang yang jagoan olahraga, jagoan badminton, karate, basket. Itu menjadi murid-murid yang mendapat perhatian dari sekolahan.
Tetapi di Tamansiswa tidak karena di sini ekstrakurikuler yang dominan. Kalau perempuan menari, kalau laki-laki pencak silat.
Di sekolah Tamansiswa Butet mengikuti ekstrakurikuler pencak silat. Pelatih yang mengajar tidak tanggung-tanggung, para pendekar pencak silat. Ujiannya membuat kembangan-kembangan dari jurus-jurus silat.
“Untuk menjadi lulus dari Taman Dewasa harus berhasil menciptakan kembangan pencak silat. Kalau di luar Tamansiswa itu ada kempo, karate. Saya tertarik sekolah di Tamansiswa juga karena ada pelajaran ketamansiswaan yang tidak ada di sekolah-sekolah yang lain,” ujar Butet.
Buku yang Memengaruhi Hidup Butet
Butet kembali menjelaskan, adanya inisiasi Hari Buku Nasional itu bagus, karena mengingatkan banyak khalayak bahwa buku itu penting sebagai sumber pengetahuan. Hendaknya dimaknai sebagai dorongan orang untuk tidak berhenti mencari pengetahuan melalui buku.
“Buku yang memengaruhi hidup saya adalah buku-buku biografi dari tokoh-tokoh yang berhasil. Menurut saya pasti menceritakan jejak-jejak perjalanan, jejak-jejak pergumulan yang menyebabkan seseorang berhasil, berprestasi. Saya yakin kalau orang mau membaca buku biografi pasti banyak menemukan ilmu pengetahuan,” ujarnya.
Butet mengatakan lagi, judul buku yang favorit adalah biografi Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat. Butet berharap untuk generasi sekarang, dapat menjadikan buku tersebut sebagai sumber pengetahuan yang terus ditimba.
Sementara itu, sejarawan JJ Rizal menjelaskan, bahwa kehadiran pertama sebelum menjadi Ki Hajar Dewantara, masih sebagai seorang bangsawan Pakualaman. Namanya Suwardi Suryaningrat.
Dia terlibat dalam suatu institusi politik pertama di Indonesia bahkan bisa disebut sebagai partai politik pertama namanya Indische Partij tahun 1913 berdiri.
“Kalau mau tahu jejaknya sekuat apa di Indonesia ini, coba lihat lambang Tamansiswa. Lambangnya itu Garuda, lambang kebebasan, lambang kemerdekaan. Di dada burung Garuda itu ya Tamansiswa. Itu ada cakra. Nah, cakra ini lambangnya siapa? Itu pertanyaan yang sering orang enggak tahu. Itu lambang Indische Partij. Lambang itu adalah favorit dari Suwardi Suryaningrat. Senjata cakra dimiliki sebagai lambang kebijaksaan,” ungkap JJ Rizal.
Zaman Kebangsawanan Pikiran
Menurut JJ Rizal pula, orang dihormati bukan karena kebangsawanan, tapi karena kebijaksanaannya. Di awal abad 20 ini menjadi perdebatan besar.
“Zaman itu adalah zaman kebangsawanan pikiran. Jadi orang dihargai bukan karena kita keturunan siapa, kita anak siapa. Kita dihormati karena kita punya pikiran yang bisa menghasilkan kebijaksanaan,” ujarnya.
JJ Rizal menjelaskan, kini kita memperingati Hari Buku Nasional. Buku itu penting hari ini ketika otak tidak lagi hadir. Pikiran tidak ada.
“Jadi pada hari buku kita harus memuliakan pikiran. Kita bayangin aja bangsa ini dibuat oleh orang-orang yang berpikir, orang-orang yang membaca. Hari ini setiap tindakan orang-orang yang memiliki posisi penting yang mengurus negara itu, bertolak belakang dengan yang bikin negara ini. Enggak ada pikirannya. Itu menyedihkan menurut aku. Enggak punya pengalaman dengan buku mungkin mereka. Tangannya terlalu bersih dari bacaan, dari buku,” gugat JJ Rizal.
JJ Rizal memaparkan, yang menyedihkan di Hari Buku Nasional ini, dulu orang dikasih makan ilmu, sekarang dikasih makan benar-benar makanan. Itu merendahkan dunia pendidikan yang gagasannya adalah ruang pikiran.
“Hari ini masyarakat harus baca Indonesia Menggugat. Penting. Kita mesti menggugat Indonesia kita yang dibajak sama bajingan-bajingan,” pungkasnya. ***

