Mabur.co- Desa Tenganan Dauh Tukad di Kabupaten Karangasem, Bali, selama ini dikenal lewat kerajinan anyaman ate yang khas dan sarat makna budaya.
Di tengah gempuran produk modern, para perajin tetap setia memanfaatkan batang dan akar tanaman ate yang tumbuh alami untuk menghasilkan tas, tikar, hingga kerajinan dekoratif bernilai tinggi.
Namun di balik keindahan itu, tersimpan persoalan keberlanjutan bahan baku dan pengelolaan usaha. Tanaman ate sulit dibudidayakan, sehingga perajin kerap harus mencari bahan baku hingga ke luar desa untuk memenuhi permintaan wisatawan dan konsumen.
Desa Tenganan atau dikenal dengan Tenganan Pegringsingan, merupakan salah satu dari sejumlah desa kuno di Pulau Bali. Desa ini masih ditinggali oleh penduduk asli desa setempat.
Dilansir laman Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Rabu (27/5/2026), menyebut Desa Wisata Tenganan Pegringsingan merupakan destinasi wisata yang memiliki karakteristik budaya pada masa Bali pra-Majapahit.
Desa Terpencil
Desa ini lebih dikenal sebagai Desa Bali Aga yang berarti desa tua. Sebelum tahun 1970-an, Desa Tenganan dikenal oleh para antropolog sebagai masyarakat terpencil di Nusantara.
Perubahan pesat telah terjadi di desa tersebut sejak tahun 1970-an, seperti pembangunan komunikasi lokal oleh pemerintah pusat, pembukaan pariwisata, pelanggaran aturan endogam. Desa Bali Aga juga dikenal sebagai warga Bali Mula, sebuah subsuku bangsa yang berada di pulau Dewata, yang mengklaim sebagai cikal bakal Bali.
Desa Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem, selain memiliki tradisi mekare-kare, dan tenun ikat geringsing, juga menjadi penghasil kerajinan seni melukis lontar prasi yang sangat artistik.
Hasil kerajinan seni lontar prasi ini sangat diminati wisatawan yang berkunjung, bahkan dikoleksi oleh tokoh-tokoh nasional hingga internasional.
Media Lontar Berupa Lukisan Klasik
Seni lontar prasi adalah karya seni rupa menggunakan media daun lontar berupa lukisan klasik berbentuk wayang, dewa-dewi, terkadang disertai teks singkat menggunakan huruf (sastra) Bali.
Kesenian lontar prasi di Tenganan sudah berkembang sejak puluhan tahun silam. Para perajin juga menjadikan kesenian lontar prasi sebagai buah tangan bagi wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Desa Bali Aga.
Maestro seni prasi, I Wayan Mudita Adnyana, menceritakan, pada masa muda dia suka berpetualang ke berbagai tempat seperti ke Desa Kamasan Klungkung, ke rumah seorang seniman dalang bernama Pekak I Nyoman Delem alias Pekak Mireg (kelahiran tahun 1924).
“Awalnya saya lebih suka menyurat lontar berupa kakawin sejak tahun 1959. Temanya beragam, dari kisah Lubdaka, Ari Sraya, Bharatayuda dan Negara Kertagama,” ungkapnya, dilansir Bali Express, Rabu (27/5/2026).
Aneka Motif
I Wayan mengatakan, ada beberapa jenis motif aksara dalam menyurat lontar di antaranya Motif Ngetumbah, motif aksara berbentuk bulat dan sangat ideal, dari tinggi dan besarnya aksara sehingga tampak indah dan bagus (bilah lontar antara lebar dan panjang ideal).
Kemudian ada pula Motif Ngranti, motif aksara berdiri ganggas/tinggi dan kurus (bilah lontar agak lebar tapi pendek).
Selanjutnya adalah motif Pasang Jendra, yaitu aksara memanjang ke samping sehingga tampak aksara agak bocok (bilah lontar kurus dan panjang).
“Membuat seni prasi, sebut Mudita, harus memiliki kemampuan menyurat sesuai pasang aksara dan membaca aksara Bali. Selain itu, juga harus memiliki kemampuan mendalami cerita serta menguasai bentuk/motif tokoh dan teknik menggambar di bilah lontar,” katanya.

