Mabur.co– Pemerintah Norwegia melarang siswa sekolah dasar (SD) menggunakan layanan kecerdasan buatan (AI) generatif. Kebijakan tersebut diterapkan untuk mencegah dampak negatif AI terhadap proses belajar anak.
Dewan Pendidikan Kabupaten Sleman, Eko Priyo Agus Nugroho menjelaskan, terkait dengan kebijakan negara Norwegia dengan larangan siswa SD menggunakan AI generatif, bagus saja.
Apalagi AI ini luas dan banyak macamnya. Salah satunya misalnya pengguna AI ingin membuat sebuah gambar. Tidak perlu namanya membuat sketsa, langsung dibuat prom langsung jadi.
“Sebenarnya secara proses pendidikan, anak usia SD tidak mampu untuk mengetahui proses tahapan dalam pendidikan sehingga ketika kita tarik bagaimana dengan Indonesia, pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan dan keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Nomor 127/P Tahun 2025. Pemerintah sudah menggunakan pedoman implementasi coding dan kecerdasan artifisial pada pendidikan anak usia dini, jenjang pendidikan dasar, dan jenjang pendidikan menengah,” ucapnya, Rabu (8/7/2026).
Eko mengatakan, tentu harapannya di Indonesia sudah dikenalkan. Memang tidak langsung menggunakan mesin generatif untuk pembelajaran. Tapi bagaimana anak-anak Indonesia itu mengenal proses tahapan.
“Jadi tidak langsung pakai AI generatif sehingga ini agak beda memang kebijakan yang ada di Indonesia dengan di Norwegia,” ucapnya.
Eko mengatakan lagi, kebijakan di Indonesia juga tidak tidak salah karena tidak langsung menggunakan AI generate.
Pengenalan Dasar
“Jadi lebih ke dasar-dasar coding itu seperti apa, terus kecerdasan artifisial itu seperti apa. Itu ada bertahapnya. Tidak langsung serta-merta menggunakan AI generate. Apalagi jika anak tidak mengetahui proses tahapan pendidikan.
Di Indonesia tujuan utamanya adalah bagaimana murid siap menghadapi era industri 4.0 dan masyarakat 5.0 dengan fondasi pola pikir komputasi.
Artinya computational thinking dan etika digital ini harus dikenalkan. Sedangkan untuk kurikulum di Indonesia juga lebih terintegrasi. Artinya diberlakukan sebagai mata pelajaran pilihan.
Dimulai dari kelas 5 SD hingga jenjang menengah, diajarkan pada fase C, D, E dan F dan untuk pendekatan juga fleksibel. Kalau di Indonesia pembelajaran memprioritaskan human centered mindset artinya mindset yang dibangun di sekolah, sehingga sekolah tidak selalu membutuhkan komputer.
“Jadi unplugged dengan kartu atau peraga fisik ataupun secara daring. Di Indonesia juga terkait dengan kebijakan Kepmendikdasmen. Kalau di Norwegia langsung melarang pakai AI yang generate. Jadi ini memang langsung potong kompas dan ini bagus juga. Bahwasanya di Norwegia lebih menitikberatkan calistung yakni membaca, menulis dan berhitung. Itu memang dasar atau basic bagi anak-anak SD. Negara Indonesia juga tidak meninggalkan calistung. Cuma ditambah dengan kebijakan untuk pengenalan, kalau dilihat tambahan kebijakan dari pemerintah,” katanya.
Eko mengatakan juga, tidak dipungkiri dan dihindari terkait perkembangan teknologi, membuat banyak pekerjaan seseorang semakin dimudahkan.
Untuk efektivitas, efisiensi waktu, lebih cepat ketika dengan namanya AI, teknologi memang tidak bisa dihindari.
Mindset Harus Dibangun
“Untuk usia SD, mindset harus dibangun dulu. Jadi tahapannya harus sesuai dengan usia. Penggunaan AI ini anak-anak harus dikenalkan. Anak-anak nanti tidak gagap teknologi. Memang sudah di zaman yang serba canggih. Bahkan AI itu sudah merambah di semua lini.
Khusus untuk yang SD sebaiknya hanya pengenalan saja. Di Indonesia pemerintah sudah membikin pedoman. Tidak serta-merta langsung dikenalkan secara utuh. Tetapi step by step,” katanya.

