Mabur.co – Selama ini kita mengenal Cambridge, salah satu kota di Inggris, dengan sebutan “kota pelajar”. Terlebih dengan keberadaan Cambridge University di sana, yang begitu populer dan menjadi tempat banyak mahasiswa dari seluruh dunia untuk menimba ilmu, dan seterusnya.
Namun, Cambridge bukan hanya soal pendidikan atau universitas, tapi juga tentang masjid ramah lingkungan.
Ya, Cambridge mulai ikut mengembangkan dunia keislaman di negara Inggris, dengan mendirikan Cambridge Central Mosque, yang diresmikan pada 24 April 2019.
Dilansir dari laman Cambridge Central Mosque, Selasa (28/7/2026), pembangunan masjid ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan komunitas Muslim di Cambridge, yang jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Mereka pun menginginkan adanya masjid yang bisa menjadi pusat ibadah, sekaligus sebagai tempat untuk kegiatan masyarakat, pendidikan serta budaya di kota Cambridge.
Peningkatan jumlah umat muslim di Cambridge juga salah satunya berasal dari para mahasiswa yang mengenyam pendidikan di Cambridge University, sehingga mereka ikut membawa pengaruh keislaman ke wilayah tempat mereka menempuh studi.
Bangunan ini memadukan tradisi Islam dan arsitektur lokal, dan diperkirakan mampu menampung hingga seribu jemaah dalam satu waktu.
Pembangunan masjid ini diketahui memakan waktu lebih dari 10 tahun (2009-2019). Hal itu terjadi karena sulitnya proses perizinan untuk mendirikan bangunan di sana, keterbatasan dana karena hanya berasal dari sumbangan publik, serta kerumitan memadukan arsitektur tradisional dengan teknologi ramah lingkungan yang modern.
Kompetisi Desain Arsitektur
Pada saat itu (2009), pihak yayasan pengelola masjid sempat mengadakan kompetisi desain arsitektur, untuk menentukan bagaimana bentuk masjid ini ke depannya, dan dampak yang akan ditimbulkan bagi lingkungan sekitar, dan seterusnya.
Akhirnya, terpilihlah Marks Barfield Architects, yang berhasil memenangkan kompetisi tersebut. Ia pun memiliki ide untuk membuat desain bangunan dengan konsep oasis yang tenang di tengah pepohonan rindang.
Marks pun mulai berkolaborasi dengan para desainer lain, hingga akhirnya mampu menciptakan bangunan yang memiliki sintesis unik.
Cikal Bakal ‘Eco Mosque’ (Masjid Ramah Lingkungan)
Dalam pertimbangannya saat membuat desain, Marks juga telah memikirkan masalah lingkungan, agar tidak mencemari atau mengotori kawasan atau udara di sekitarnya.
Akhirnya, Cambridge Central Mosque mulai menerapkan atap dengan konsep panel surya, atau disebut juga “masjid hijau” (eco mosque).
Dengan bermodalkan atap berbasis panel surya, bangunan ini akan disinari terus menerus secara alami oleh cahaya melalui atap yang berukuran besar, serta dilengkapi dengan lampu LED yang hemat energi. Kemudian, sel surya di atap akan membantu menghasilkan energi terbarukan yang berasal dari sinar matahari.
Selain memiliki isolasi termal yang baik dan ventilasi alami, bangunan masjid ini juga dapat dipanaskan dan didinginkan menggunakan energi yang dihasilkan secara mandiri, dengan menggunakan pompa panas berdaya tinggi di ruang bawah tanah.
Kemudian, air limbah domestik dan air hujan ditampung, dan dipakai untuk menyiram toilet serta mengairi lahan.
Jejak karbon masjid yang pada dasarnya sudah rendah, akan menjadi semakin berkurang seiring waktu, yang dibarengi dengan ketersediaan listrik dari sumber energi terbarukan.
Ada juga ruangan luas untuk sepeda dan akses yang mudah dilalui untuk pejalan kaki. Tempat parkir bawah tanah juga membebaskan ruang di lokasi untuk area masjid dan tanaman.
Sementara taman dan kafe di dalamnya juga ikut menciptakan ruang yang ramah bagi seluruh masyarakat.
Penekanan keberlanjutan dan ketergantungan tinggi pada energi hijau telah menjadikan masjid ini sebagai masjid ramah lingkungan pertama di Eropa, setidaknya hingga saat ini. (*)
