Kisah di Balik “Selasa Sastra” Pentas Pertama di Kantor Telkom Bantul

Mabur.co – Perkembangan sastra dari waktu ke waktu mengalami kemajuan yang signifikan. Karya sastra seperti puisi, cerpen, novel, dan semacamnya terus memancing banyak peminat untuk terus melestarikan. Meskipun sejauh ini karya sastra yang diminati pasaran seperti sebatas lagu konvensional (biasanya bertemakan cinta kasih sayang kepada pasangan).

Pada awal 2014 lalu, berawal dari obrolan sederhana di angkringan pinggir jalan, muncullah ide untuk benar-benar menampung aktivitas bersastra melalui panggung yang diciptakan sendiri, dan dipublikasikan melalui platform media sosial seperti YouTube dan Instagram.

Tedi Kusyairi dan Satmoko Budi Santoso adalah dua sastrawan pertama yang menginisiasi terbentuknya panggung sastra bernama Selasa Sastra. Mereka pun turut mengajak beberapa kawan yang kebetulan juga berkecimpung di bidang sastra untuk ikut membacakan karya sastra pilihan mereka sendiri.

Akhirnya, Selasa Sastra resmi pentas untuk pertama kalinya pada Sabtu, 1 Februari 2014, bertempat di Kantor Telkom, Bejen, Bantul. Acara itu juga menandai launching kumpulan cerpen Satmoko Budi Santoso yang berjudul Rahim Titipan.

Potongan kliping koran Tribun Jogja pada Selasa 4 Februari 2014 yang memuat Citizen Journalism tentang edisi pertama Selasa Sastra Foto Dokumentasi Pribadi

Meskipun namanya Selasa Sastra, tapi tidak menutup kemungkinan acara ini bisa dilangsungkan pada hari lain. Karena branding Selasa Sastra sendiri sudah cukup melekat, maka apa pun hari pelaksanaannya, namanya tetaplah Selasa Sastra.

“Untuk lokasinya sendiri, kegiatan ini pada awalnya dilaksanakan secara nomaden atau berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, seperti kafe, pendopo, teras rumah, dan seterusnya,” papar Tedi Kusyairi, Direktur Komunitas Selasa Sastra, saat dijumpai di Kelingan Garden and Cafe, Selasa, 6 Januari 2026.

Menurut Tedi Kusyairi pula, untuk saat ini lokasinya lebih banyak difokuskan di kafe, terutama yang berada di Kabupaten Bantul.

Bahkan pada saat pandemi COVID-19 tahun 2020 lalu, Selasa Sastra tetap bisa eksis, karena memanfaatkan platform digital seperti YouTube dan Instagram. Siapa saja yang memiliki video karya pentas, entah itu di dalam rumah, di kamar, atau bahkan di kamar mandi sekalipun, bisa mengirimkan videonya untuk dipentaskan secara online dalam bentuk kompilasi.

Menariknya, meskipun Selasa Sastra awalnya diperuntukkan bagi para sastrawan atau seniman, namun tidak menutup kemungkinan siapa saja dari kalangan mana saja juga berhak berpartisipasi dan berkarya di panggung Selasa Sastra. Baik itu anak muda, orang tua, pegawai kantoran, musisi baru, sineas, atau siapa pun diri Anda. Karena pada akhirnya, sastra adalah milik semua orang, bukan hanya sastrawan atau seniman semata.

Lebih dari Satu Dekade Kemudian

Kini Selasa Sastra menuju ke usianya yang ke-12 tahun atau satu lusin. Usia itu menggambarkan usaha mempertahankan eksistensi sastra di tengah keberagaman konten yang dihasilkan di media sosial.

Selasa Sastra terus berupaya untuk menghidupi sastra dengan konsisten memberikan panggung dan menghasilkan karya di saat yang sama. Karena dengan terus menghidupi sastra, kita juga bisa hidup dari sastra. Melalui ribuan karya yang dihasilkan dari sastra, akan ada saatnya kita mendapatkan rezeki yang tidak disangka-sangka. (*)

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *