Sejarah Panjang Desa Manding sebagai Pusat Kerajinan Kulit di Yogyakarta

3 Min Read
Boutique display of leather handbags and purses on metal shelves in a sunny shop interior
Displai sejumlah produk kerajinan kulit yang tersedia di Desa Wisata Manding (Foto: bantulkab.go.id)

Mabur.co – Perjalanan Desa Manding menjadi Desa Wisata, sekaligus sentra kerajinan kulit di Yogyakarta, membutuhkan proses panjang dan juga berliku, namun bisa dibilang cukup mengesankan.

Awalnya desa ini hanyalah sebuah pemukiman biasa di mana penduduknya mengandalkan pertanian seperti sawah dan ladang, sebagai sumber penghasilan utama.

Namun, melalui inisiatif penduduk setempat untuk menciptakan peluang kerja baru, Desa Manding kemudian tumbuh menjadi salah satu pusat kerajinan kulit terkemuka di Indonesia.

Salah satu tokoh utama dalam perkembangan ini adalah Ratno Suharjo, yang merupakan pelopor dalam bidang kerajinan kulit generasi pertama di desa tersebut.

Dilansir dari laman resmi Pemerintah Provinsi DIY, Sabtu (30/5/2026), kisah manis ini dimulai sekitar tahun 1947, ketika Ratno dan dua temannya sedang melakukan perjalanan ke Yogyakarta. Di Museum Kereta Kencana, mereka melihat para pengrajin yang membuat pelana dan kursi dari kulit. Kemudian, mereka meminta izin untuk bekerja di museum tersebut.

Awalnya, mereka hanya mengumpulkan kulit bekas, tetapi dalam sepuluh tahun pertama, warga desa berhasil memproduksi berbagai produk seperti ikat pinggang, tas, dan lainnya. Dari produk-produk tersebut, Ratno dan rekan-rekannya berupaya mencari pasar yang lebih luas, dan akhirnya menemukan Pasar Ngasem.

Pasar tradisional yang terletak di kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Yogyakarta ini, menjadi gerbang bagi pembeli dari dalam dan luar negeri, yang jatuh cinta pada karya tangan para warga Desa Manding.

Ketika itu, Desa Manding turut menjadi pelopor dalam ekspor produk kulit, karena mendapat pesanan dari luar negeri, termasuk India, Belgia, dan Australia.

Kedatangan pembeli asing ke Manding mengakibatkan pesanan terus berdatangan dalam jumlah yang mencapai ratusan, sehingga perlu organisir yang lebih rapi dan terstruktur.

Terus Berkembang

Saat ini, Desa Manding telah bertransformasi menjadi desa wisata yang sangat menarik perhatian. Selain menjual produk kerajinan kulit, desa ini juga telah berubah menjadi destinasi wisata yang menawarkan pengalaman menarik bagi pengunjung dari luar desa, luar kota, bahkan luar negeri.

Tersedia berbagai jenis paket wisata yang ditawarkan bagi para wisatawan, termasuk paket wisata budaya. Salah satu yang menarik adalah kesempatan bagi pengunjung untuk merasakan membuat kerajinan kulit langsung dari sumbernya. Pengunjung dapat mengikuti aktivitas seperti membuat gantungan kunci, dompet, dan tempat pensil dari kain perca, atau mengikuti pelatihan dalam teknik natah timbul.

Berkat tekad dan kerja sama yang solid antara warga desa untuk terus menggerakkan perekonomian sekitar, Desa Manding telah berkembang sebagai salah satu desa wisata paling ramai dikunjungi di Yogyakarta, terutama berkat kerajinan kulitnya yang unik dan tidak ditemukan di tempat lain.

Dan tentu saja, Desa Wisata Manding terus berupaya memaksimalkan berbagai potensi desa yang dimiliki, dengan tetap mengikuti perkembangan zaman dan teknologi yang ada saat ini. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment