Freeport, Perjalanan Emas Terbaik Papua 1967-2061

Kalau harus iseng menuliskan soal Orde Baru, maka yang segera menyergap saya adalah sudut pandang tentang Freeport. Kawasan salah satu pusat perputaran uang triliunan itu dioperasikan sejak 1967, berganti sekian kali presiden, dan terus saja diperpanjang kontraknya di era Presiden Jokowi hingga 2061 dengan negara Amerika. Jadi sejak 1967-2061 itu kontrak kerja samanya hanya dengan negara Amerika.

Saya yakin, kelak pasca-2061 akan diperpanjang lagi kontraknya, boleh jadi oleh Gibran Rakabuming Raka, Kaesang Pangarep, Puan Maharani, Agus Harimurti Yudhoyono, Ilham Habibie, Yenny Wahid, Didit Hediprasetyo, atau entah siapa lagi nama-nama yang memungkinkan.

Sepertinya hanya merekalah yang mampu memperpanjang kontrak Freeport hingga entah kapan, mungkin sampai era Jan Ethes atau La Lembah Manah juga akan terus diperpanjang lagi. Terus dan terus.

Waduh, kok sepertinya cita rasa frustasi yang mengedepan dari narasi kolom ini. Tidak edukatif sama sekali. Pembukaannya saja sudah sedemikian mupus atau pasrah dan terkesan marah-marah.

Pastilah saya tidak sedang mengumbar pasrah dan kemarahan. Itu opini subjektif saja. Biasa saja. Opini warga negara biasa yang terlanjur lebih banyak hidup dalam kubangan angan-angan.

Bahkan untuk bebas dari penjara stempel negara berkembang saja, juga hanya bisa melawan dengan angan-angan. Tidak bisa merealisasi.

Padahal logikanya, penghasilan dari Freeport saja sudah cukup untuk menambal ketimpangan stempel sebagai negara berkembang. Segala kekurangan bisa dikejar dengan anggaran hanya dari Freeport saja.

Menjadikan bangsa Indonesia sebagai negara maju, setara dengan stempel bagi negara maju lainnya. Setara dengan Amerika, Singapura, Jerman, Jepang, Swiss, Kanada, Inggris, atau Korea Selatan.  

Jujur saja, saya sendiri tidak paham, blunder-nya di mana? Kok susah sekali bebas dari vonis negara berkembang padahal mempunyai sumber daya alam yang kaya raya.

Kata Prof. Mahfud MD, hanya dari Freeport saja, jika dibagi rata untuk semua makhluk homo sapiens di Indonesia, per kepala bisa dapat 20 juta setiap bulan tanpa harus bekerja.

Belum lagi sumber pemasukan lain. Namun tetap saja kita hanya berkubang sebagai warga di negara berstatus berkembang-(kempis?).

Logika apa yang bisa menjelaskan fakta semacam ini? Apakah karena memang tidak mungkin menjadi negara maju karena jika menyamai sang majikan yaitu si Paman Sam akan membahayakan konstelasi dunia?

Saya yakin, sampai pada paragraf ini, Anda yang memang membaca narasi saya sudah stres dan boleh jadi tidak akan melanjutkan membaca.

Saya sendiri sebenarnya sudah setengah tidak ingin lagi melanjutkan narasi. Karena sepertinya memang tidak ada peluang untuk bebas dari status negara berkembang. Boleh jadi status itu memang diciptakan selamanya sampai Freeport benar-benar habis.

Barangkali di tahun 5000. Ketika kedalaman tanah yang dikeruk sudah tembus ke lubang yang entah menuju ke mana. Benar-benar lubang. Growong! Sudah tak bisa lagi dikeruk! Sudah ujung bumi paling bawah Indonesia!

Judul kolom ini Freeport, Perjalanan Emas Terbaik Papua 1967-2061, juga tidak bisa menjelaskan apa-apa selain seperti judul yang clickbait saja nilainya. Entahlah. Mungkin saya akhirnya hanya membuat cerita pendek dengan judul itu.

Tapi, sebelum menutup narasi mirip fiksi ini, saya hanya akan membagikan kesan ketika baru saja melihat website Freeport dan senang membaca apa yang tersaji di sana. Senang melihat beberapa aktivitas yang ada di website itu.

Juga senang ketika melihat di YouTube Kota Kuala Kencana yang super megah untuk fasilitas karyawan Freeport. Saya senang melihat semua kabel sudah ada di bawah tanah dan Kota Kuala Kencana itu sudah sangat lengkap memenuhi kebutuhan warga Freeport. Kota Jakarta saja masih kalah bersih dan kinclong.

Lalu di mana korelasi narasi kolom ini dengan perjalanan emas terbaik Papua sejak 1967 hingga 2061 yang bahkan belum dijalani?

Anda bisa melanjutkan sendiri narasi saya ini. Emasnya ada di mana? Sudah terdistribusi tentu saja. Barangkali yang untuk hitungan 2026 hingga 2061 meskipun belum dijalani juga sudah terpetakan dengan baik ke mana saja pendistribusiannya. Ketika saya cari di internet juga belum ketemu. Mohon beritahu saya jika Anda menemukannya.

Atau kalau Anda misalnya punya produk emas Freeport seperti yang saya taruh sebagai cover kolom ini, bolehlah kapan-kapan ketemu untuk cerita kepada saya. Untuk melengkapi narasi kolom yang nanggung dan canggung ini.

O ya. Ada yang tercecer. Kota Kuala Kencana itu memang dibangun oleh Freeport Indonesia sejak 5 Desember 1995. Luas areanya 17.078 hektare. Lokasinya di Mimika, Papua Tengah yang diklaim sebagai kota modern pertama di Indonesia yang berada khusus di tengah hutan tropis.

Segar sekali, Guys… ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *