Kekhasan Kepemimpinan Presiden Soeharto, Padukan Filsafat Jawa dan Filsafat Islam

10 Min Read
Bronze statue of a military officer in uniform and peaked cap, standing with a raised right hand against a bright blue sky.
Tanggal 8 Juni menjadi momen yang mengingatkan bangsa Indonesia pada sosok Jenderal Soeharto. Presiden Kedua Republik Indonesia yang lahir pada 8 Juni 1921 di Kemusuk, Bantul, Yogyakarta. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co- Tanggal 8 Juni menjadi momen yang mengingatkan bangsa Indonesia pada sosok Jenderal Soeharto. Presiden Kedua Republik Indonesia yang lahir pada 8 Juni 1921 di Kemusuk, Bantul, Yogyakarta.

Lebih dari dua dekade setelah wafatnya, nama Soeharto masih dikenang dan menjadi bagian penting dalam diskusi sejarah nasional karena warisan pemerintahannya yang meninggalkan jejak besar. Hingga pada akhirnya Soeharto resmi mendapat gelar Pahlawan Nasional pada 10 November 2025 lalu.    

Presiden Soeharto memimpin Indonesia selama 32 tahun, dari 1967 hingga 1998. Dalam rentang waktu tersebut, ia membawa Indonesia memasuki era yang dikenal sebagai Orde Baru, sebuah periode yang ditandai pembangunan ekonomi pesat, stabilitas politik, sekaligus berbagai kontroversi terkait demokrasi dan hak asasi manusia.

105 Tahun Jenderal Besar HM Soeharto

Kepala Museum Memorial Jenderal Besar HM Soeharto, Gatot Nugroho, mengatakan, pada 8 Juni 2026, 105 tahun Jenderal Besar HM Soeharto lahir.

Ia adalah sosok Bapak Bangsa, Bapak Pembangunan Nasional dan terakhir diberi Anugerah Pahlawan Nasional pada 10 November 2025.

Sosok Soeharto adalah sosok anak desa yang sederhana saat dilahirkan di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul. Dari sosok seorang anak desa putra dari seorang petani bernama Pak Panjang Kerto Sudiro dan ibunya adalah ibu rumah tangga, Ibu Sukira.

Selfie of a man with short gray hair and glasses wearing a blue patterned shirt, indoors with blue doors and framed photos behind him, including a portrait on the wall and a photo on an easel.
Kepala Museum Memorial Jenderal Besar HM Soeharto, Gatot Nugroho. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Kehidupan kecil Pak Harto, demikian panggilan akrab Presiden Soeharto, adalah kehidupan anak-anak petani pada saat itu. Pada saat itu pula anak-anak bangsa masih dijajah oleh Belanda sehingga mempunyai keterbatasan-keterbatasan. Ada kendala dan rintangan dalam pendidikan.

“Ketika Soeharto remaja yang dilakukan adalah ingin berjuang untuk bangsa dan negara, mengusir Belanda bersama-sama dengan rekan-rekannya, berjuang pada masa perang kemerdekaan tahun 1945-1949,” ucap Gatot Nugroho saat ditemui mabur.co di Museum Memorial Jenderal Besar HM Soeharto, Senin (8/6/2026).

Gatot mengatakan pula, dalam karir militer Pak Harto, atas rida dari Allah, bisa berjalan dengan baik. Bahkan tugas-tugas negara yang beliau emban atas perintah Presiden Republik Indonesia yang pertama Soekarno bisa dijalankan dengan baik.

Ketika ada tragedi berdarah di Indonesia, adanya peristiwa G30S/PKI, Soeharto bersama-sama dengan rakyat Indonesia akhirnya mampu menumbangkan cita-cita Partai Komunis yang ingin mengubah ideologi Pancasila menjadi ideologi komunis.

Bahkan Partai Komunis tidak bisa berkembang di Republik Indonesia. Perjalanan panjang Pak Harto membangun negara Indonesia pun berhasil.

Bapak Pembangunan

Oleh sebab itu pula ia dikenal sebagai Bapak Bangsa yang mampu merintis pembangunan, melanjutkan pembangunan yang telah ditanamkan oleh Soekarno dari awal tahun 1968 kemudian tahun 1970.

Tercatat pula dari era 1980-an, dari negara miskin Pak Harto bersama-sama dengan tokoh Indonesia pada waktu itu dan juga bersama rakyat Indonesia, tak henti membangun negara Indonesia menjadi negara yang berkembang.

Lalu menjadi negara yang menuju tinggal landas. Walaupun dalam perjalanan 32 tahun Pak Harto membangun bangsa ini, akhirnya terputus karena adanya reformasi.

Tentu saja perjalanan panjang Pak Harto terus menggelinding dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu menghargai apa yang dilakukan oleh para pahlawannya. Apa yang dilakukan oleh pendahulunya.

Soekarno mengatakan, jas merah, jangan lupakan sejarah.

“Jadi Soeharto berjuang untuk bangsa membangun negeri ini dengan ikhlas, dengan sepenuh hati. Ketika reformasi terjadi, kemudian pasca-reformasi. Ternyata apa yang ada di di bumi ini, di Indonesia ini, adalah reformasi tidak lebih baik daripada masa-masa Orde Baru. Itu akan terasa ketika penuh waktu panjang,” ucap Gatot Nugroho.

Gatot mengatakan lagi, tahun 1998 sampai 2011, berarti 13 tahun berikutnya, rakyat bisa merasakan dan merindukan Pak Harto sehingga muncul slogan Piye kabare? Enak zamanku, to?

Jadi, rakyat membandingkan, ketika zaman Pak Harto yang namanya korupsi itu menjadi bagian yang selalu menjadikan bangsa Indonesia malu.

“Dulu itu ketika era Soeharto, ketika ada satu pejabat di wilayah itu ketahuan korupsi, yang malu seluruh Indonesia. Ketika ada anak bangsa, anak pejabat terkena kasus narkoba, yang malu seluruh Indonesia. Tetapi sekarang apa yang terjadi? Korupsi sudah menjadi tradisi, dari tingkat elit bahkan enggak ada terpikirkan rakyat tuh. Uang namanya triliunan itu kayak apa? Dulu itu rakyat cuma tahu uang jutaan dan miliaran,” ujar Gatot lagi.

Menurut Gatot, pasca-reformasi, publik mengenal uang triliunan adalah hal yang lumrah. Banyak orang yang korupsi triliun sudah hal biasa, ini sangat ngeri di Negara Indonesia sekarang.

Filsafat Jawa

“Harapan kami adalah belajarlah dari para pemimpin terlebih dahulu. Pemimpin hebat di Indonesia adalah Soekarno, yang kedua adalah Soeharto. Berikutnya mudah-mudahan pemimpin-pemimpin pasca-reformasi bisa belajar tentang kelebihan dan kekurangan pemimpin yang ada. Karena seorang pemimpin adalah manusia biasa, tidak pernah sempurna. Soeharto selalu mengatakan bahwa selalu menjaga tentang filosofi Jawa. mikul dhuwur mendem jero,” ucap Gatot.

Yang dimaksud mikul duwur suatu perbuatan tentang kebaikan dari siapa pun yang diperoleh atau kita dapatkan, harus kita jaga.

“Jadi ketika kita mendapat kebaikan dari siapa pun, sebesar apa pun kita jaga kebaikan itu. Kita junjung tinggi kebaikan. Kita siarkan kebaikan untuk anak bangsa. Kemudian yang dimaksud mendem jero itu manusia enggak ada yang sempurna. Manusia itu pasti ada kelebihan dan kekurangan.

Manusia itu lumrah, pasti ada kelebihan. Orang Jawa mengatakan sing elek-elek dipendem jero. Jadi yang jelek-jelek itu enggak usah kita sebarluaskan. Itu titah manusia ada kelemahannya. Yang jelek-jelek enggak usah ditiru. Enggak usah disebarkan sehingga bangsa ini akan menjadi bangsa yang selalu berbicara tentang kebaikan,” katanya.

Panel discussion with three men holding microphones in front of a large banner featuring a portrait of Soeharto and Indonesian symbols.
Ketua Umum Barahmus DIY, Dr. Drs. Ki Hajar Pamadhi, M.A. (tengah), Kepala Museum Memorial Jenderal Besar HM Soeharto, Gatot Nugroho (tiga dari kiri) saat menggelar sarasehan peringatan kelahiran Jenderal Besar HM Soeharto di Museum Memorial Jenderal Besar HM Soeharto Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Gatot menjelaskan, kalau sekarang kita prihatin, orang menjelek-jelekkan pihak lain hanya karena kepentingan untuk dia menjadi terkenal, dia menjadi tenar.

Kesannya dengan kelemahan-kelemahan yang disebarluaskan, akhirnya anak-anak bangsa, anak muda itu bisa terpengaruh. Kemudian ujung-ujungnya imbauan ayo gulingkan pemerintahan!

Menurut Gatot, kalau memang semacam itu tujuannya, Indonesia tidak akan pernah maju. Jadi, sebaiknya ikuti apa yang menjadi kebijakan pemerintah dengan metodologi, dengan keilmuan yang ada, dengan dasar-dasar yang tepat.

“Jadi, tidak asal ngomong, kemudian tidak asal memfitnah yang nanti juntrungnya adalah memengaruhi generasi penerus bangsa. Kasihan generasi penerus bangsa itu. Perlu yang namanya karakter, kejujuran, rasa cinta tanah air, dan jiwa-jiwa kesatria Pancasila harus ditanamkan dengan kebaikan,” katanya.

Gatot mengatakan pula, 105 tahun kelahiran Pak Harto ini, harapannya belajarlah dari Pak Harto dengan segala kelebihan-kelebihan yang beliau lakukan untuk bangsa dan negara.

“Mudah-mudahan apa yang dilakukan Pak Harto untuk bangsa dan negara dengan adanya Museum Memorial Jenderal Besar HM Soeharto yang sekarang 13 tahun berdiri ini, bisa menjadi inspirasi bagi generasi penerus bangsa,” katanya.

Di sisi lain, Ketua Umum Badan Musyawarah Museum (Barahmus) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Dr. Drs. Ki Hajar Pamadhi, M.A. (Hons), mengatakan, dulu pernah mendemo Pak Harto, juga pernah masuk penjara, tetapi ia juga membanggakan Pak Harto. Karena sejak kuliah bisa mendapatkan beasiswa Supersemar. Melalui beasiswa Supersemar pula bisa menjadi mahasiswa teladan yang diundang Pak Harto ke Jakarta.  

“Saya juga diundang lagi oleh Pak Harto tahun 1985 sebagai dosen teladan nasional. Sekarang saya tahu mengapa saya sekarang menjadi Pro Pak Harto, karena kalau orang berpikir negatif selamanya akan negatif. Kita berpikir positif agar bangsa kita ini maju terus, kalau kita mikir yang jelek, selamanya akan terjadi jelek terus,” paparnya dalam acara Sarasehan 105 Tahun Jenderal Besar Soeharto di Museum Memorial Soeharto, Kemusuk, Bantul, Yogyakarta, Senin (8/6/2026).

Bronze statue of a man in a traditional cap beside a blue wall with large gold Indonesian text on it.
Konsep filsafat Jawa yang dijadikan satu dengan filsafat Islam. Konsep Soeharto yakni sabar atine (selalu sabar), sareh tumindake (selalu bijaksana) dan saleh pikolahe (selalu  saleh taat beragama). (Foto: Setiaky A Kusuma)

Ki Hajar Pamadhi menuturkan pula, mari berpikir yang positif.

“Apa yang saya capai dengan memahami Pak Harto? Ternyata saya salah. Pak Harto itu punya gaya untuk pendidikan kebangsaan yang khas Indonesia, yang jelas Pak Harto itu adalah tokoh pendidik kebangsaan Indonesia. Buktinya di zaman Pak Harto tidak ada yang neko-neko. Oleh karena itu, mari kita berpikir positif. Di dalam sosok Pak Harto ada yang diangkat, yaitu filsafat Jawa karena orang Jawa. Yang kedua adalah filsafat politik. Jadi bukan politiknya,” ucapnya.

Ki Hajar Pamadhi  menuturkan pula, Pak Harto mengonsep filsafat politik dengan cara, bagaimana negara itu bisa tenteram.

“Politik kita waktu itu dianggap selalu bergerak terus. Terakhir beliau memiliki konsep filsafat Jawa yang dijadikan satu dengan filsafat Islam. Yakni sabar atine (selalu sabar), sareh tumindake (selalu bijaksana), dan saleh pikolahe (selalu saleh taat beragama),” katanya. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment