Mabur.co- Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,0 mengguncang wilayah laut di barat laut Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, pada Senin (8/6/2026) pukul 07.55 WIB. Pusat gempa berada di laut sekitar 201 kilometer barat laut Tahuna dengan kedalaman 10 kilometer.
Kepala Stasiun Geofisika Gorontalo, Andri Wijaya, mengatakan, pemerintah mengumumkan peringatan dini tsunami akibat gempa yang berkekuatan magnitudo 7,7 dengan Lokasi 5,69 lintang utara 125,05 bujur timur atau 236 km barat laut Tahuna Kepulauan Sangihe Provinsi Sulawesi Utara.
Gempa terjadi pada kedalaman 105 km.
“Berpotensi tsunami di wilayah Gorontalo, Kaltim, Malut, Sulteng, Sulut,” ujarnya dilansir dari situs resmi bmkg.go.id.
Gorontalo di Kawasan Geologi Aktif
Sementara itu, pakar Geologi UGM, Ir. Gayatri Indah Marliyani, S.T., M.Sc., Ph.D., IPM mengatakan, Gorontalo sering diguncang gempa karena Gorontalo berada di kawasan yang secara geologi aktif.
Di sekitar Gorontalo terdapat beberapa sumber gempa, yaitu Zona subduksi di utara Sulawesi, yaitu wilayah tempat lempeng bumi saling bertumbukan dan salah satu lempeng menunjam ke bawah lempeng lainnya.
Proses ini dapat menghasilkan gempa bumi yang cukup besar dan sesar-sesar aktif di daratan maupun di sekitar perairan Gorontalo.
“Sesar aktif adalah rekahan di kerak bumi yang masih bergerak hingga saat ini dan dapat memicu gempa sewaktu-waktu,” ucapnya via telepon, Senin (8/6/2026).

Gayatri mengatakan, karena Gorontalo berada di dekat lebih dari satu sumber gempa, masyarakat relatif lebih sering merasakan guncangan dibandingkan wilayah yang jauh dari zona tektonik aktif.
Beberapa gempa di Gorontalo berpotensi memicu tsunami, tetapi tidak semua gempa akan menghasilkan tsunami. Potensi tsunami dapat berasal dari beberapa sumber yakni gempa besar di zona subduksi di utara Sulawesi yang menyebabkan pergeseran dasar laut secara tiba-tiba.
Tsunami kiriman, yaitu tsunami yang berasal dari gempa besar di wilayah lain dan kemudian merambat hingga mencapai pantai Gorontalo.
Sesar lokal atau gempa dekat pantai yang dapat memicu longsoran bawah laut atau runtuhan lereng, sehingga menghasilkan tsunami lokal meskipun magnitudo gempanya tidak terlalu besar.
“Wilayah pesisir Gorontalo tentu menjadi area yang paling berpotensi terdampak tsunami. Selain itu, muara sungai di bagian selatan Kota Gorontalo dapat menjadi jalur masuk gelombang tsunami ke arah daratan, karena gelombang dapat merambat mengikuti alur sungai. Namun, berdasarkan karakteristik geografis wilayah tersebut, dampak genangan tsunami kemungkinan akan lebih terlokalisasi dan tidak selalu meluas ke seluruh kota,” ucapnya.
Gayatri mengatakan, yang perlu dipahami adalah bahwa tidak setiap gempa akan memicu tsunami.
“Setiap gempa kuat yang terasa lama di wilayah pesisir sebaiknya dianggap sebagai peringatan alami untuk segera menjauhi pantai dan menuju tempat yang lebih tinggi sambil menunggu informasi resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG),” ucapnya. ***

