Mabur.co – Wilayah Prambanan Sleman selama ini dikenal sebagai kawasan yang menyimpan jejak peradaban kuno bercorak Hindu Buddha di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Di wilayah Prambanan inilah banyak sekali ditemukan berbagai macam situs cagar budaya berupa candi baik itu yang masih utuh maupun berupa reruntuhan.
Dari sekian banyak situs di wilayah Prambanan, ada satu situs yang cukup menarik sekaligus unik. Situs itu bernama Watu Gudig yang terletak di Dusun Jobohan, Kalurahan Bokoharjo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman.
Penamaan Unik
Situs ini cukup menarik karena penamaannya yang tidak biasa. Jika biasanya sebuah situs atau candi dinamai berdasarkan nama lokasi candi itu ditemukan, maka situs ini justru dinamai dari perspektif masyarakat sekitar terhadap bentuk temuan situs tersebut.
Watu Gudig merupakan istilah bahasa Jawa yang berasal dari dua gabungan kata “watu” dan “gudig”. Watu berarti “Batu” sementara “gudig” berarti penyakit kulit. Sehingga dapat diartikan Watu Gudig berarti Batu yang memiliki penyakit pada bagian kulit luarnya.
Penamaan situs ini kemungkinan diberikan warga setempat karena pada masa lalu batu-batu yang berada di lokasi situs dipenuhi lumut. Sehingga permukaan batu terlihat berbintik-bintik dan dianggap menyerupai penyakit kulit atau gudig.
Terlepas dari namanya yang unik, situs Watu Gudig menjadi salah satu peninggalan sejarah yang menyimpan jejak kekayaan peradaban Hindu di wilayah Yogyakarta, khususnya Kapanewon Prambanan.
Dikutip dari laman resmi Dinas Kebudayaan DIY, Minggu (31/5/2026), di kawasan situs ini, tepatnya di bagian tengah sisi selatan terlihat gundukan tanah yang lebih tinggi dibanding area sekitarnya. Pada bagian tersebut ditemukan struktur bangunan yang tersusun dari bata kuno.
Selain itu, ditemukan pula 44 umpak batu andesit berukuran besar dan kecil. Umpak ini merupakan bagian alas tiang bangunan yang biasa digunakan pada bangunan kuno.
Umpak berukuran besar memiliki bagian bawah berbentuk bujur sangkar dengan ukuran sekitar 76 x 76 sentimeter dan tinggi sekitar 20 sentimeter.
Sementara bagian atasnya berbentuk bundar dengan diameter sekitar 76 sentimeter dan tinggi 24 sentimeter. Pada bagian tengah terdapat tonjolan berbentuk silinder dengan diameter sekitar 10 sentimeter dan tinggi 7 sentimeter.
Sementara itu, umpak berukuran kecil memiliki bagian bawah berbentuk persegi dengan ukuran sekitar 53 x 53 sentimeter dan tinggi 13 sentimeter.
Sedangkan bagian atasnya berbentuk bundar berdiameter sekitar 42 sentimeter dengan tonjolan di bagian tengah berdiameter 6 sentimeter dan tinggi 5 sentimeter.
Sebagian umpak ditemukan dalam posisi tidak beraturan. Beberapa di antaranya terlihat miring bahkan terbalik, yang diduga akibat faktor usia maupun aktivitas alam di sekitar situs.
Dengan adanya penemuan umpak ini, dapat diindikasikan adanya bangunan struktur kayu semacam pendopo di masa lalu yang digunakan untuk melakukan kegiatan keagamaan.
Tak hanya umpak, di lokasi juga ditemukan sejumlah batu bata kuno berukuran sekitar 33 x 20 x 7 sentimeter. Temuan lain yang cukup menarik adalah sebuah yoni, yakni simbol pemujaan dalam agama Hindu.
Namun berbeda dari yoni pada umumnya yang memiliki lubang berbentuk persegi, yoni di Situs Watu Gudig justru memiliki lubang berbentuk bulat. Temuan tersebut menjadi salah satu ciri unik yang dimiliki situs ini.
Keberadaan yoni tersebut sekaligus menunjukkan bahwa Situs Watu Gudig memiliki latar belakang budaya Hindu dan diperkirakan berasal dari masa klasik di Jawa.
Meski tidak sepopuler situs besar lainnya kawasan ini tetap menjadi temuan penting untuk mempelajari kehidupan masyarakat di masa lalu. Baik itu terkait jenis bangunan yang digunakan hingga ragam teknik pembuatannya. ***

