Mabur.co- Ada yang berbeda dari daerah lain dalam memperingati Hari Lahir Pancasila, masyarakat Bambanglipuro, Sumbermulyo, Bantul, Senin (1/6/2026) menggelar Festival Wayang Beber di Kanutan, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul.
Bagi masyarakat di Padukuhan Kanutan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, hari Sabtu tanggal 1 Juni bukan sekedar peringatan tahunan Hari Lahir Pancasila saja.
Lebih dari itu, sekelompok pelaku budaya setempat merayakannya dengan menggelar seni pertunjukan Merti Wayang Beber.
Merti Wayang Beber Pancasila adalah produk budaya unggulan dari Museum Wayang Beber Sekartaji yang ada di padukuhan tersebut.

Pengelola Museum Wayang Beber Sekartaji, Indra Suroinggeno mengatakan, pada hari ini, kita punya kegiatan Festival Wayang Beber Pancasila yang merupakan festival pertama di dunia.
Tentunya ada alasan kuat mengapa Wayang Beber di sini menggunakan kata Pancasila. Terinspirasi dari nilai luhur Kakawin Sutasoma dan fakta bahwa di Dusun Kanutan dihuni oleh penduduk dari berbagai kepercayaan.
“Jadi di sini kan latar belakang masyarakatnya berbeda-beda, ada yang Muslim, Katolik, Protestan, Buddha dan sebagainya. Kami berinisiatif bagaimana caranya agar masyarakat bisa berbaur, ya salah satunya dengan budaya,” ungkapnya.
Indra mengatakan, meski latar belakang masyarakat dalam menganut kepercayaan beragam, masyarakat setempat sangat kompak.
“Setiap ada peringatan hari besar agama, masyarakat di sini saling membantu. Misalnya di rumah salah satu warga ada acara apa, di rumahnya saling membantu. Di sini juga ada situs Gilang dari Mataram Kuno dan Gereja Ganjuran,” katanya.

Indra mengatakan, Wayang Beber Pancasila merupakan salah satu roh dari Museum Wayang Beber Sekartaji. Dibuat oleh Sanggar Seni Budaya Bhuana Alit karena respons alami sebagai fondasi dalam menyebarkan visi dan misi kebhinnekaan.
“Dari Jalan Pancasila untuk masyarakat dunia, itulah kira-kira penggambaran semangat kami selama ini. Selalu menjadi ikon museum dimana pun kami berada,” katanya.

Indra menjelaskan, Wayang Beber Pancasila terdiri dari 5 jagong cerita sepanjang kurang lebih 4,5 meter. Namun ke depan akan terus berkembang dan akan meluas dengan berbagai sajian untuk menyiratkan pesan nasionalisme kepada masyarakat.
”Wayang Beber Pancasila selama ini sudah menjalani pentas puluhan kali dan di berbagai tempat serta acara. Selain menjadi sajian istimewa untuk ditampilkan di Museum Wayang Beber Sekartaji. Wayang Beber Pancasila juga Babad Alas menggema di mana-mana sebagai contoh pentas untuk acara-acara kampung, pentas di Mall Malioboro, pentas di Selasa Wage, pentas di Titik Nol, pentas di Kraton Ratu Boko, di Candi Prambanan, di Sanggar Kahangnan, di tepi Sungai Progo, di Rumah Garuda Surabaya, dan berbagai tempat lainnya,” katanya.

Indra menuturkan, kegiatan tersebut sudah keempat kalinya. Dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila ini, masyarakat berkeliling membawa desa membawa atribut-atribut Pancasila.
Tema yang diangkat berbeda-beda, misalnya Merti Wayang Pancasila pertama Garuda Arupa Bumi, Merti Wayang Pancasila kedua Garuda Muka, Merti Wayang Pancasila ketiga Garuda Sri Bhaya Rawa dan tahun keempat Merti Wayang Pancasila Aku Bumi.
“Tema pada tahun ini diangkat karena kita melihat pemerintah banyak hutan yang dibabat habis,” ungkapnya.
Merti Wayang Beber Pancasila
Indra menjelaskan lagi, Museum Wayang Beber Sekartaji bersama masyarakat khususnya di Padukuhan Sumbermulyo telah sepakat untuk memberikan sesuatu. Yaitu Warisan Budaya Takbenda (WBTb) berupa Merti Wayang Beber Pancasila yang sudah menjadi agenda rutin tahunan untuk mendukung Pancasila agar tetap jaya.
“Saya berharap dengan adanya acara Merti Wayang Beber Pancasila ini masyarakat Dusun Kanutan, Padukuhan Sumbermulyo, bisa menjadikan Pancasila sebagai napas bagi setiap langkah mereka dan bisa bertoleransi tinggi agar damai sejahtera,” katanya.
Indra mengatakan lagi, kegiatan ini selaras dengan sila-sila Pancasila. Yang pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, kita merawat alam lingkungan ini juga bagian pengabdian terhadap Tuhan. Kemudian sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab. Di sini kita menggunakan cara-cara tersendiri untuk menghargai tingkat-tingkat perbedaan.
Kemudian yang ketiga itu persatuan Indonesia. Di sini akhirnya banyak sekali masyarakat berkumpul menjadi satu, salah satunya UMKM.
Kemudian yang keempat hari ini kita bisa duduk bersama masyarakat karena kita musyawarah bersama bagaimana baiknya mengelola desa wisata Kampung Pancasila ini.
Kemudian sila kelima keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia di sini mengutamakan UMKM lokal. Bahkan ada produk makanan yang sudah profesional ditolak karena mengutamakan warga lokal.
“Untuk menunjukkan siapa diri kita, bahwa dari masyarakat sini pun kita bisa berkarya dalam bentuk kuliner dan yang lainnya,” ucapnya.
Salah satu warga, Poniman mengatakan, mengenai wayang beber sudah semestinya keberadaannya dirawat. Sebab, keberadaan wayang beber adalah sesuatu yang langka dan harus dirawat keberadaannya.
“Supaya kita tidak kehilangan identitas. Sebagai warga Ngayogyakarta Hadiningrat, sebagai warga Kesatuan Republik Indonesia,” katanya. ***

