Mabur.co – Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada setiap 5 Juni, sangat penting jika menengok kembali aspek pengelolaan sampah. Khususnya demi menyelamatkan polusi di kawasan wisata ekologis.
Sejauh ini dikenal beragam jenis wisata ekologis berdasarkan ekosistem dan aktivitas utamanya. Misalnya ekowisata bahari atau marine ecotourism.
Ragam Wisata Ekologis
Jenis wisata ekologis ini mempunyai fokus pada pelestarian dan penjelajahan lingkungan perairan. Terkait dengan aktivitas snorkeling, menyelam (scuba diving), dan tur perahu ramah lingkungan.
Contohnya pada lokasi yang dikenal cukup populer yaitu di Taman Nasional Bunaken dan Raja Ampat, di mana wisatawan belajar tentang terumbu karang.
Lalu di kawasan Ekowisata Hutan dan Pegunungan (Forest & Mountain Ecotourism) yang melibatkan penjelajahan kawasan hutan, konservasi flora, dan pengamatan satwa.
Beragam aktivitas yang dilakukan misalnya trekking atau menyusuri hutan (nature trail). Kemudian pengamatan burung (bird watching) dan berkemah.
Ada juga kawasan ekowisata sungai dan lahan basah (river & wetland ecotourism) yang berpusat pada ekosistem perairan darat, seperti sungai, danau, atau hutan bakau dengan aktivitas yang dilakukan berupa susur sungai. Menggunakan perahu tanpa motor, memancing tangkap-lepas, dan penanaman mangrove (bakau).
Terakhir adalah ekowisata pedesaan dan budaya (rural & cultural ecotourism) yang menggabungkan kecintaan pada alam dengan partisipasi langsung dalam kehidupan, budaya, dan kearifan lokal.
Aktivitas yang dilakukan misalnya belajar bertani organik, membuat kerajinan tangan lokal, dan tinggal di rumah warga (homestay) dengan lokasi populer Desa Wisata Nglanggeran di Yogyakarta dan Desa Penglipuran di Bali.
Sejauh ini, perawatan kawasan wisata ekologis dari pencemaran terus dilakukan. Aktivitas melestarikan lingkungan pada dasarnya juga merupakan sesuatu yang cukup mudah untuk dilakukan.
Dilansir dari laman Halodoc, Jumat (5/6/2026), berikut adalah sejumlah langkah sederhana yang bisa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, untuk menjaga kelestarian lingkungan sekitar dari ancaman limbah dan semacamnya yang juga berarti menyelamatkan kawasan wisata ekologis yang ada di lingkungan terdekat kita.
1. Pilah dan Kelola Sampah
Tak bisa dipungkiri, sampah merupakan kontributor terbesar terhadap kerusakan lingkungan.
Untuk dapat menanggulangi sampah, Anda bisa memisahkan sampah organik (sisa makanan/daun) dan anorganik (plastik/kertas) di rumah Anda. Olah sampah organik menjadi kompos atau buat lubang biopori.
Alangkah lebih baik apabila tumpukan sampah tersebut bisa didaur ulang (recycle) menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat, ketimbang hanya dibuang ke TPS (Tempat Pembuangan Sampah) begitu saja.
2. Kurangi Plastik Sekali Pakai
Biasakan membawa tas belanja yang terbuat dari kain saat berbelanja, lalu gunakan botol minum (tumbler) sendiri, dan tolak penggunaan sedotan plastik saat mengonsumsi minuman dingin di luar.
3. Lakukan Gerakan Penghijauan
Anda juga bisa menanam pohon atau tanaman hias di pekarangan rumah, untuk menyerap polusi dan menghasilkan lebih banyak oksigen di rumah Anda.
Manfaatkan teknik urban farming atau gunakan pot, jika lahan yang tersedia tidak terlalu luas.
***
Seluruh langkah di atas terdengar sederhana, dan cukup mudah dilakukan. Namun, jika tidak dibiasakan sejak awal, step-step di atas akan terasa berat untuk dilakukan, lantaran tidak menjadi habit yang dilakukan secara rutin setiap harinya.
Karena yang terpenting adalah bagaimana memulai setiap langkah tersebut secara sederhana atau “kecil-kecilan”. Ketika sudah menjadi kebiasaan, maka langkah selanjutnya akan jadi lebih mudah, dan sudah menjadi rutinitas yang tidak perlu dipaksakan lagi oleh siapapun.
Semua itu dilakukan demi menjaga lingkungan hidup agar tetap asri dan hijau, untuk kebaikan generasi sekarang dan generasi yang akan datang.
Terkait dengan lingkungan terdekat kita dan bisa saja juga dengan kawasan wisata ekologis yang tetap akan selamat dari ragam pencemaran. (*)

