Mengenal Pangeran Aryo Selarong, Sosok di Balik Goa Selarong

7 Min Read
Outdoor sign reading 'GOA SELARONG' in large yellow letters on a stone retaining wall with greenery behind it.
Goa Selarong (Foto: Explore Jogja)

Mabur.co – Siapa tak kenal Goa Selarong? Goa bersejarah ini begitu dikenal karena menjadi tempat persembunyian sekaligus pusat perlawanan Pangeran Diponegoro dalam perang Jawa tahun 1825-1830 saat melawan penjajah Belanda. 

Tak hanya itu, di masa Agresi Militer Belanda ke II tahun 1948-1949, Goa Selarong yang terletak di Desa Guwosari, Pajangan, Bantul, Yogyakarta ini juga menjadi markas perjuangan pasukan Jenderal Sudirman dalam melakukan perang gerilya.

Lalu kenapa Goa Selarong? Apa keistimewaan tempat ini, sehingga selalu menjadi titik penting perlawanan dan perjuangan masyarakat Yogyakarta, dari masa ke masa?

Jauh sebelum dikenal sebagai markas persembunyian Pangeran Diponegoro, kawasan Goa Selarong ternyata memiliki sejarah panjang yang tak banyak diketahui publik.

Menurut sumber sejarah resmi Pemerintah Desa Guwosari, kawasan ini dulu merupakan suatu wilayah kademangan bernama Selarong. Saat itu wilayah Selarong cukup luas bahkan mencakup sebagian besar wilayah Desa Guwosari saat ini.

Pangeran Aryo Selarong, Tokoh yang Jarang Disebut

Sejarah kemunculan nama Selarong sendiri tak bisa dilepaskan dari sosok bernama Pangeran Aryo Selarong. Tokoh inilah yang diyakini menjadi asal-usul nama Selarong.

Berdasarkan catatan sejarah trah keturunan Demang Joyosentono (trah ke-8 Pangeran Aryo Selarong), sosok Pangeran Aryo Selarong bukanlah tokoh sembarangan.

Ia merupakan seorang Pangeran Kasultanan Mataram Islam yang berpusat di Kotagede. Pangeran Aryo Selarong merupakan putra dari Prabu Hanyokrowati atau Panembahan Seda Krapyak, raja kedua Kesultanan Mataram Islam dari permaisuri utama bernama Ratu Tulung Ayu. 

Itu artinya dia adalah Cucu dari Pendiri Kasultanan Mataram Islam, Panembahan Senopati. Sekaligus juga kakak kandung dari Raja Terbesar Kasultanan Mataram Islam, Sultan Agung Hanyokrokusumo. 

Sejumlah sumber dalam silsilah Mataram, menyebut Pangeran Aryo Selarong memiliki nama muda Raden Mas Wuryah atau Raden Mas Chakra. Keduanya diduga merupakan orang yang sama karena sama-sama menggunakan gelar Pangeran Aryo Selarong.

Sebagai putra dari permaisuri utama, Pangeran Aryo Selarong sebenarnya memiliki hak besar atas takhta Kesultanan Mataram. 

Namun, ia memilih menyerahkan hak tersebut kepada adiknya, Raden Mas Rangsang, yang kemudian dikenal sebagai Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja terbesar dalam sejarah Mataram Islam. Keputusan itu membuat Pangeran Aryo Selarong lebih banyak berkiprah di bidang agama dan militer.

Dalam berbagai sumber babad Mataram disebutkan bahwa ia turut membantu perjuangan Sultan Agung memperluas kekuasaan Mataram, termasuk memimpin penaklukan wilayah Jember dan Pasuruan di Jawa Timur.

Namun keadaan berubah ketika pemerintahan beralih kepada Amangkurat I. Pangeran Aryo Selarong disebut tidak sepakat dengan kepemimpinan Amangkurat I yang dianggap banyak melakukan tindakan sewenang-wenang serta menjauh dari nilai-nilai agama. 

Karena itulah ia memutuskan meninggalkan lingkungan keraton dan memilih menetap di sebuah wilayah di sebelah barat Mataram yang kemudian dikenal dengan nama Selarong.

Di wilayah inilah, Pangeran Aryo Selarong mendirikan pondok pesantren dan membangun pusat kegiatan keagamaan masyarakat. Ia juga dipercaya menjadi penguasa lokal di kawasan Selarong dan memimpin masyarakat setempat bersama keturunannya.

Menurut catatan sejarah lokal, Pangeran Aryo Selarong wafat pada tahun 1669. Ia disebut tewas dibunuh oleh prajurit rahasia utusan Amangkurat I di wilayah Bareng, Kuwel, Delanggu. 

Peristiwa tersebut tercatat dalam sejumlah sumber sejarah seperti Babad Momana, laporan pejabat VOC Rijklof van Goens kepada Gubernur Jenderal Joan Maetsuycker di Batavia, hingga tulisan sejarawan Belanda Hermanus Johannes de Graaf.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa dan pengaruhnya, masyarakat kemudian mengabadikan nama Selarong sebagai nama wilayah tempat tinggal dan pusat aktivitas Pangeran Aryo Selarong.

Kekuasaan di wilayah Selarong selanjutnya diteruskan oleh keturunannya secara turun-temurun. Beberapa nama yang tercatat antara lain Panembahan Aryo Selarong II atau Raden Mas Abdullah, Panembahan Aryo Selarong III atau Raden Mas Wongsokoro, Kenthol Resoboyo, Kenthol Soboyo, Kenthol Wongsomenggolo, Kenthol Ongkojoyo, hingga Raden Joyosentono yang kemudian dikenal sebagai Demang Selarong.

Wilayah Selarong pada masa itu diyakini memiliki cakupan yang cukup luas hingga kawasan Pegunungan Selarong dan menjadi wilayah yang kini menjadi Kalurahan Iroyudan. Dalam peta kuno Perang Jawa, nama Iroyudan bahkan belum ditemukan secara terpisah dan diduga masih menjadi bagian dari Selarong.

Basis Persembunyian

Pada masa Perang Jawa tahun 1825-1830, wilayah Selarong menjadi kawasan yang sangat penting karena digunakan Pangeran Diponegoro sebagai markas perjuangan, tempat menyusun strategi perang, hingga lokasi persembunyian dari serangan Belanda.

Masyarakat Selarong dan Iroyudan disebut menjadi kelompok pendukung pertama yang membantu perjuangan Pangeran Diponegoro. Nama Raden Joyosentono bahkan tercatat sembilan kali dalam Babad Diponegoro versi Manado yang ditulis langsung oleh Pangeran Diponegoro.

Dalam catatan tersebut, Joyosentono dikenal memiliki hubungan dekat dengan Diponegoro dan para panglimanya seperti Ali Basah Sentot Prawirodirjo, Ali Basah Abdul Kamil, serta Ali Basah Abdul Latif atau Kerto Pengalasan.

Setelah Perang Jawa berakhir pada 1830, Kesultanan Yogyakarta mulai melakukan penataan wilayah administratif. Selarong kemudian dijadikan wilayah kademangan yang dipimpin keturunan Joyosentono sebagai demang.

Pada tahun 1914, Kasultanan Yogyakarta kembali melakukan reorganisasi pemerintahan desa. Saat itu lahirlah Kalurahan Selarong dengan pusat pemerintahan di Dusun Gandekan.

Wilayahnya meliputi Gandekan, Dukuh, Kentholan Kidul, Kentholan Lor, Kembangputihan, Pringgading, Bungsing, dan Watu Gedug.

Sementara wilayah Iroyudan berdiri sebagai kalurahan tersendiri yang mencakup Dusun Iroyudan, Kadisono, Karangber, Santan, Kalakijo, Kedung, dan Kembang Gede.

Kemudian pada Oktober 1947, Sultan Hamengku Buwono IX mengeluarkan kebijakan penggabungan sejumlah desa di wilayah Yogyakarta. Kalurahan Selarong dan Iroyudan pun resmi digabung menjadi satu dengan nama baru Guwosari, yang kini masuk wilayah Kapanewon Pajangan, Kabupaten Bantul.

Hingga sekarang, nama Selarong masih sangat lekat dengan sejarah perjuangan Mataram Islam dan Perang Diponegoro.

Kawasan Goa Selarong bahkan telah menjadi situs sejarah penting sekaligus destinasi wisata edukasi yang banyak dikunjungi masyarakat untuk mengenang perjuangan para tokoh masa lalu. ***

Share This Article
Avatar photo
Lahir di Jogja. Fans Man Utd.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment