Boleh jadi, hanya Sri Sultan Hamengku Buwana V yang paling sedikit merasakan jumenengan dalem karena jika ditelusuri jejak digitalnya hanya dua periode menjabat. Ia meninggal dibunuh oleh selirnya sendiri pada 5 Juni 1855, yang oleh jejak digital juga disebutkan sebagai selir kelima.
Kisah pembunuhan itu bagi saya hingga kolom ini saya tuliskan, masih menyimpan misteri. Karena jejak digital yang saya telusuri belum begitu saya percayai. Khususnya mengenai penyebabnya. Beberapa pertanyaan yang saya ajukan ke narasumber tertentu juga belum begitu saja saya percayai.
Waduh, repot, bukan?
Ya, begitulah nasib saya yang banyak didengungkan media hidup di era post truth ini. Semuanya bisa jadi bias. Tapi inti peristiwa pembunuhan itu saya yakini benar.
Nah, yang menarik adalah seorang selir saja bisa melakukan pembunuhan. Padahal dalam kutukan kultural apa yang jadi kuasa seorang selir sehingga bisa menunjukkan kekuatan melakukan pembunuhan?
Bukankah kutukan kultural seorang selir hanya manut atau menurut saja pada superioritas raja? Lha wong ming selir (hanya pendamping, bisa jadi bukan merupakan istri sah atau permaisuri), demikian biasanya ledekan yang sering muncul untuk menengarai ketidakberdayaan kuasa selir.
Saat pembunuhan itu terjadi, demikian intuisi saya bekerja, sang selir juga belum mendapatkan asupan pemahaman mengenai ideologi feminisme, mengenai kesetaraan. Namun, dia bisa membunuh.
Ini luar biasa sekali. Sepanjang saya bergumul dengan ranah kebudayaan, saya belum tahu apakah ada karya seni yang terinspirasi dari kisah pembunuhan yang dilakukan sang selir itu. Bisa jadi, Anda, para homo sapiens penekun sejarah, bisa memberikan pemahaman dan informasi kepada saya bahwa pernah ada karya sastra, tarian, lukisan, dan bahkan film yang merupakan transformasi gagasan peristiwa pembunuhan itu.
Jangan-jangan, sehabis saya menulis kolom ini, nantinya akan lahir karya kreatif dari kisah pembunuhan itu? Entahlah. Saya tertarik menuliskan catatan pendek yang hanya bersifat reflektif ini, juga cuma bertendensi mengajak merenung saja.
Betapa sejak masa silam, kursi singgasana kekuasaan memang rentan gugatan. Gugatan itu bisa menjadi ledakan amarah yang bersifat personal maupun ideologis kolektif karena terkait kebijakan sang raja. Intinya, bisa memunculkan sikap kritis, dan bahkan super kritis.
Saya sendiri tidak habis pikir kenapa sang selir sampai buta mata, buta telinga, dan buta hati untuk mengangkat senjata dan melakukan pembunuhan. Dalam sudut pandang psikologi atau kesehatan mental kira-kira level kemarahannya sudah sampai pada hitungan angka berapa?
Lalu si pembunuh itu, sang selir itu, meskipun dianggap bersalah secara kultural, sosial, dan terlebih lagi hukum, namun dia pastilah merasakan kelegaan yang luar biasa. Plong. Ketika melihat darah segar mengalir dari tubuh yang dibunuh, sang selir itu bisa saja bagaikan sudah moksa. Seperti ekstase…
Itulah kisah gelap dalam bentang perjalanan suksesi di Keraton Yogyakarta yang bisa jadi bernilai tabu kultural. Namun itulah tabu yang akhirnya menjadi wacana terbuka juga. Saya dan Anda, para homo sapiens pembaca setia mabur.co pastilah hanya bisa prihatin dan mengelus dada. Betapa kesalahan sang raja bisa tak termaafkan di mata sang selir.
Semoga saja sejarah kelam itu tidak pernah terulang lagi dan momentum jumenengan dalem di era post truth, era kiwari dan era Gen Z ini, bisa sebagai pengingat antar-generasi homo sapiens. Apalagi kini sudah merajalela wacana feminisme dan bahkan Abdi Dalem pun sudah memahami dengan baik.
Di tingkatan negara juga sudah ada Kementerian Hak Asasi Manusia yang bisa menjadi pengontrol dan kendali jika memang ada kesewenang-wenangan kuasa kultural, kuasa kebijakan, atau apa pun.
O ya. Salah satu kenangan saya tentang Keraton Yogyakarta adalah saat meliput karya Raden Saleh di dalam Keraton Yogyakarta pada 2011 dan dimuat majalah seni rupa nasional Visual Arts. Beberapa kali pernah juga mengantar kawan untuk jalan-jalan. Pakansi begitulah, bahasa mentereng di era gaul Gen Z kini. Hahaha… ***



