Mabur.co – Selain dikenal sebagai daerah tujuan wisata sejarah dan budaya, Desa Guwosari, Pajangan, Bantul, juga dikenal sebagai kawasan sentra kuliner tradisional.
Salah satu sentra kuliner yang ada di desa ini adalah Dusun Kentolan, Santan dan Kalakijo yang terkenal dengan sajian kuliner legendaris berupa Ingkung. Saking terkenalnya, daerah ini bahkan sering disebut sebagai Kampung Ingkung.
Saat berkunjung ke kampung ini kita akan melihat deretan rumah makan yang menyajikan menu utama berupa kuliner tradisional ingkung.
Kuliner Tradisional Ayam Kampung
Dikutip dari situs resmi Pemerintah Kabupaten Bantul, ingkung merupakan sajian kuliner tradisional berbahan dasar ayam kampung utuh yang dimasak dengan racikan santan dan rempah-rempah.
Dalam tradisi kehidupan masyarakat Jawa, ingkung menjadi sajian istimewa karena selalu wajib dihidangkan dalam berbagai ritual adat seperti kenduri, selamatan hingga syukuran.
Selain berfungsi sebagai lauk-pauk utama, ingkung juga disajikan sebagai simbol doa dan harapan yang tak bisa dilepaskan karena telah mengakar kuat dari generasi ke generasi.
Kampung Ingkung Guwosari, Pajangan, Bantul, sendiri pertama kali muncul sekitar tahun 2014. Dipelopori oleh berdirinya rumah makan seperti Ingkung Kuali dan Ingkung Omah Dhuwur.
Salah satu tokoh lokal, Mbah Dalijan atau akrab disapa Mbah Kentol, mempopulerkan racikan khas bernama Ingkung Cancut Taliwondo untuk melestarikan metode memasak tradisional menggunakan kuali tanah liat serta kayu bakar.
Keunikan rasa ayam kampung yang gurih, empuk, dan disajikan di atas daun pisang alami menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Hingga akhirnya banyak warga dusun lainnya mulai ikut membuka usaha serupa.
Saat ini kampung Ingkung Guwosari Pajangan telah dikenal luas masyarakat dan selalu menjadi lokasi tujuan wisatawan untuk berburu kuliner ingkung.
Dengan mempertahankan proses memasak secara tradisional, cita rasa ingkung yang dihasilkan pun memiliki ciri khas yang tidak akan ditemukan di tempat lainnya.
Tekstur Lunak dan Gurih
Di mana tekstur daging ayam kampung menjadi lebih lunak, serta memiliki rasa gurih yang meresap sempurna dengan aroma rempah yang kuat.
Disamping bisa menyantap ingkung dengan berbagai varian seperti ingkung goreng, ingkung bakar, hingga ingkung rica-rica di sini pengunjung juga bisa melihat langsung proses pembuatan ingkung itu sendiri.
Pasalnya tak sedikit restoran melakukan proses pemasakan ingkung di area terbuka menggunakan tungku tradisional.
Sebagai daya tarik, sejumlah restoran bahkan juga mendandani para juru masak dengan pakaian tradisional Jawa. Hal ini dilakukan untuk menjaga nilai budaya dan filosofi warisan leluhur. ***

